Suap dan perjudian rupanya masih menghantui kompetisi sepak bola di Indonesia. Bahkan musim ini diyakini kongkalikong untuk mengatur skor itu lebih parah dari sebelumnya.

Pernyataan itu muncul dari pengakuan Bambang Suryo, pelaku suap yang pernah dimintai keterangan dan memberikan kesaksian kepada Menpora Imam Nahrowi, beberapa tahun lalu.

"Suap itu masih ada. Bahkan lebih vulgar sekarang. Namun di Indonesia ini susah untuk menangkap Bandar suap, runner atau pelaku lainnya,” kata Bambang Suryo yang akrab disapa dengan sebutan BS ini.

Dulu, ia sempat rela menjadi martir untuk mengungkap kasus suap di sepak bola Indonesia. Upaya itu bahkan membawa BS ke BOPI dan Menpora. “Dulu saya mau mengungkapkan semua karena Menpora berjanji akan membersihkan sepak bola Indonesia ini dari kasus suap. Tapi nyatanya, apa yang mereka lakukan itu semuanya demi kepentingan politis,” kata BS.

Salah satu indikasinya, saat ini masih ada suap yang berjalan tapi Menpora atau BOPI dan PSSI yang dimpin oleh Edy Rahmayadi seperti menutup mata dan telinga.

“Saya malah melihat dulu mengungkapkan suap itu hanya untuk menjegal Pak Nyalla (Mahmud Mattaliti) saja  dari kursi Ketua Umum PSSI,” ujar BS.

Bukti jika ada suap itu menurut BS terlihat dari adanya keputusan BOPI yang tetap mengesahkan klub-klub yang tak memiliki dana untuk mengikuti kompetisi. “Selanjutnya klub-klub tak punya duit itu menjual pertandingannya ke Bandar atau bookie,” kata BS.

Salah satu klub yang diketahui oleh BS telah menjual pertandingannya ke bandar adalah Sragen United yang berlaga di Liga 2. Klub ini menurut BS dikuasakan kepada Haruna Sumitra. Namun oleh Haruna dijual atau disewakan ke Indika Wijaya Kusuma. Namun dalam perjalannya, Indika gagal membiayai tim itu. Pada saat kritis, Indika menghubungi BS untuk bantu menjodohkan kepada bandar. 

Menurut BS, Sragen United sebelumnya juga dikelola oleh Indika yang diteruskan kepada bandar dan ada runer yang inisial T. “Saya melihat sendiri, Indika ketemu T dengan bandar di Hotel Paragon Solo Beberapa waktu lalu. Bahkan dari situ ada pengakuan Indika mendapat uang sebesar 500 ringgit,” kata BS.

Lucunya lagi, dari BOPI diam saja. Bahkan BS mengetahui jika ada pengurus BOPI yang masuk menjadi pengurus Sragen United. “Aneh, regulator kok malah ada di klub. Ini sudah tidak benar,” kata BS.

BS yang sempat dipanggil FIFA dan AFC untuk menjelaskan adanya perjudian di sepak bola, kini merasa upaya dulu sama sekali tak berhasil untuk mengungkap kebobrokan sepak bola Indonesia.

“Mana Menpora dan BOPI yang getol  dengan membuka kasus suap dan memanggil saya untuk buka-bukaan tapi nyatanya sekarang malah lebih buruk. Mana janji sepak bola dengan tata kelola yang baik dan bersih. Ingat saya berkata ini benar dan tidak bohong,” pungkas BS.