JAKARTA – Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei sudah memerintahkan persiapan guna memulai peningkatan pengayaan uranium, menambah tekanan untuk negara-negara Eropa yang kesulitan menjaga Republik Islam itu tetap mengikuti perjanjian nuklir. "Organisasi Energi Atom Iran ditugaskan mempersiapkan pencapaian 190 ribu SWU," kata Pemimpin Khamenei dalam laporan media pemerintah, Selasa (5/6/2018).

Dia menuturkan penambahan itu juga akan dikerjakan "di bawah kerangka Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) untuk sementara waktu," mengacu pada nama resmi perjanjian nuklir Iran, Akta Gagasan Komprehensif Bersama.

Iran juga akan memberitahu tubuh pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa apabila persiapan juga akan diawali pada Selasa, kata Behrouz Kamalvandi, juru bicara Organisasi Daya Atom Iran.

"Pemimpin Khamenei miliki maksud kami harus percepat beberapa sistem. . . berkaitan kemampuan nuklir kami untuk bergerak lebih cepat kalau dibutuhkan."

Pada 9 Mei lalu, Presiden Donald Trump menginformasikan dianya menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir, membuatnya harus bersitegang dengan sekutu-sekutu di Eropa.

Dia menyebutkan juga akan menjatuhkan sangsi baru pada Iran, menghancurkan capaian yang dinegosiasikan pendahulunya, Barack Obama.

Mulai sejak saat itu, Khamenei serta beberapa petinggi beda kembali menyerang, meneror juga akan tingkatkan pengayaan uranium.

Negara Eropa serta Cina menyebutkan juga akan terus mendukung perjanjian nuklir. Namun, Teheran khawatir beberapa pemimpin Eropa tidak akan bisa mencegah AS menjatuhkan sangsi baru pada perusahaan Benua Biru hingga merugikan perekonomian minyak Iran.

"Iran tak akan terima disanksi dan dilarang mengembangkan nuklir," kata Khamenei.

"Kata-kata yang dilontarkan sejumlah negara Eropa mengindikasikan mereka mengira Iran akan sepakat mematuhi kesepakatan nuklir sembari hidup di bawah sanksi."