BREAKINGNEWS.CO.ID - Gabungan Relawan Demokrasi Pancasila (GARDA DEPAN) menyoroti banyaknya laporan masyarakat terkait dugaan kecurangan yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Pemilu Serentak 2019.

Komandan Garda Depan, Lieus Sungkharisma berpendapat jika dugaan kecurangan itu bukan hanya memprihatinkan, tapi juga menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Menurutnya, telah terjadi persekongkolan jahat oleh oknum penyelenggara pemilu demi memenangkan salah satu paslon capres.

Hal itu pun sulit dibantah, bukan saja karena banyaknya temuan kecurangan yang terjadi di tingkat TPS pada saat pencoblosan, tapi juga di tingkat PPK saat pengumpulan data formulir C1 dan di tingkat KPU ketika dilakukan input data suara pemilih melalui server resmi KPU.

Apalagi, Lieus mengungkapkan, sampai saat ini Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah menemukan 1.200 kasus dugaan kecurangan pada Pilpres 2019.

Atas banyaknya dugaan kecurangan itu, pihaknya pun mendesak segera dilakukan audit forensik terhadap KPU dan segera dibentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menemukan kebenaran material tentang apa sebenarnya yang terjadi pada pelaksanaan Pilpres tahun 2019 ini.

Lieus menyebut, audit forensik dan pembentukan TPF menjadi sangat mendesak bukan saja agar Pemilu yang sudah menghabiskan biaya triliunan rupiah itu tidak menjadi sia-sia, tapi juga agar proses suksesi kepemimpinan nasional di negeri ini berjalan dengan benar, jujur, adil, dan demokratis.

"Terlalu mahal ongkos yang harus kita bayar jika ternyata Pilpres kali ini dikotori oleh ambisi pribadi dan kepentingan sekelompok orang," ujar Lieus dalam konferensi pers di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Jalan Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (28/4/2019).

Ditambahkan Lieus, indikasi adanya kecurangan itu semakin menyolok mata ketika sudah lebih dari sepuluh hari pemilu berlangsung, namun persentase perolehan suara pasangan calon capres-cawapres di real count KPU tidak berubah signifikan.

"Dari pertama real count ditayangkan KPU, sampai hari ini jumlah persentase suara di server KPU tak beranjak dari angka yang sejak pertama kali mereka tampilkan," tegas koordinator Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi itu.