BREAKINGNEWS.CO.ID -  Data BPS yang menyebut bahwa Produk Domestik Bruto Indonesia yang tercatat lebih tinggi dari prakiraan pertumbuhan sebelumnya memberi imbas positif kepada nilai tukar mata uang rupiah.

Pada Selasa (5/11/2019) sore, nilai tukar mata uang garuda yang  ditransaksikan antarbank di Jakarta   menguat 47 poin atau 0,34 persen menjadi Rp13.968 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.015 per dolar AS.

Kepala Riset Valbury Asia Future Lukman Leong di Jakarta, Selasa mengatakan data produk domestik bruto (PDB) yang di atas ekspektasi direspon positif oleh pelaku pasar uang sehingga mendorong nilai tukar rupiah berbalik arah setelah sebelumnya mengalami tekanan. "Meski PDB Indonesia melambat dibandingkan tahun lalu, namun masih dinilai bagus karena sesuai harapan pasar yang tetap berada di atas level lima persen," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDB Indonesia pada triwulan ketiga 2019 sebesar 5,02 persen, melambat dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 5,17 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 tumbuh 5,04 persen.

"PDB di atas lima persen merupakan hal yang positif di tengah ancaman resesi global. PDB sebesar itu di atas konsensus yang sebesar 4,9 persen," ucapnya.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun ini akan bertahan di atas lima persen, hal itu salah satunya didasari oleh inflasi yang dijaga di level rendah.

 

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Oktober 2019 sebesar 0,02 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sehingga, inflasi tahunan sebesar 3,13 persen (year on year/yoy).

Ia menambahkan inflasi 2019 diproyeksikan sesuai dengan prakiraan Bank Indonesia yang berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5 persen deviasi satu persen, dan terjaga dalam kisaran sasaran tiga persen pada 2020.

Di sisi lain, lanjut dia, kebijakan Bank Indonesia yang telah melakukan pemangkasan suku bunga pada tahun ini sebanyak empat kali juga terasa dampaknya pada PDB Indonesia.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,00 persen. "Kebijakan itu merupakan langkah pre-emptive dari BI untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat," ucapnya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.031 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.002 per dolar AS.