JAKARTA - Pasca pengunduran diri Mohammad Nuruzzaman dari Partai Gerindra, ia mengaku banyak mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan partai lain. Namun, dirinya enggan merinci partai apa saja yang mengajaknya untuk bergabung tersebut. Nuruzzaman hanya mengatakan jika ia menolak seluruh tawaran tersebut, ia menegaskan lebih memilih untu fokus di Nahdatul Ulama (NU).

"Setelah saya mengundurkan diri dari partai Gerindra, saya juga berteman dengan banyak teman dari partai lain, memang beberapa teman dari partai lain menawari saya, tetapi, saya bilang saya mau istirahat dulu, mau hikmat dulu di Anshor dan Banser. Saya selalu bilang, istirahat dululah, banyak hal yang harus saya lakukan untuk refleksi," ujarnya, Kamis (14/6/2018).

Dirinya pun menegaskan jika keputusannya untuk keluar dari partai tersebut bukan untuk bergabung dengan partai lain. Keputusan itu adalah murni dilakukannya untuk membela Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang diserang habis-habisan saat lawatannya ke Israel. "Jadi enggak ada motivasi sama sekali bahwa saya keluar dari Gerindra karena saya ditawari oleh partai politik lain. Jadi dengan ini respons saya karena alasan yang kemarin-kemarin itu. Saya sebagai santri sangat kecewa dengan partai saya, salah satu kader di partai saya yang menyerang kiai yang saya hormati," tuturnya.

Klarifikasi Gerindra 

Namun, hingga saat ini mantan Wasekjen Gerindra tersebut belum memikirkan untuk berlabuh ke partai manapun. Apalagi, usai Idul Fitri ini, ia dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani akan melakukan pertemuan untuk mengklarifikasi beberapa hal. "Jadi saya harus berhikmat dulu, karena saya tinggal di pesantren, saya harus berhikmat di pesantren juga," ucapnya.

Pertemuan antara Muzani dengan Nuruzzaman, kemungkinan juga akan membahas ancaman somasi yang dilayangkan Kepala Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra Habiburokhman kepadanya. Nuruzzaman diminta segera meralat ucapannya, juga meminta maaf secara terbuka karena telah menuduh Gerindra sebagai partai penyebar kebencian dan isu SARA. Kendati demikian, ia meluruskan jika dirinya tak pernah menyebutkan Gerindra memproduksi isu SARA. Hanya saja, dalam kasus tertentu, beberapa kader Gerindra terkesan diam dan tidak menghentikan isu SARA yang bergulir di masyarakat.

Seperti diberitakan sebelumnya, sikap yang diambil oleh Nuruzzaman tersebut yakni pada Senin (13/6/2018). Saat itu, dirinya menyebut jika salah satu alasannya memutuskan untuk keluar dari partai berlambang kepala burung garuda tersebut yakni karena cuitan Waketum Gerindra Fadli Zon dalam akun Twitter pribadinya, yang dianggap menyinggung Gus Yahya karena menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Yerusalem, Israel. "Ini kan sikap saya sebagai seorang santri, mungkin orang susah memahaminya, tetapi bagi kami menghormati kiai itu adalah segala-galanya, karena kiai lah yang mengajari saya untuk mengerti agama Islam, mengerti bersikap baik kepada orang lain, mengajari saya, kan gitu," katanya.

Selain membela Gus Yahya, Nuruzzaman juga menilai, saat ini, Gerindra sudah keluar dari rel berpolitiknya. Menurutnya, Gerindra telah beralih dari partai yang berkiblat pada perubahan, menjadi partai yang memanfaatkan isu agama untuk kepentingan politik.