JAKARTA – Salah seorang Pangeran Arab Saudi yang tengah berada di pengasingan, Khaled bin Farhan Al Saud, menyerukan kudeta yang bertujuan untuk melengserkan Raja Saudi saat ini, Salman bin Abdulaziz Al Saud.

Dalam wawancara eksklusif dengan situs The Middle East Eye, Kamis (24/5/2018), Khaled menuturkan sudah meminta keluarga kerajaan lain seperti Pangeran Ahmed bin Abdulaziz serta Pangeran Muqrin bin Abdulaziz menggantikan Raja Salman yang dianggapnya telah mengacaukan monarki dengan kepemimpinannya yang "irasional, aneh, serta bodoh".

Pria yang sudah tinggal di Jerman sejak 2013 itu menganggap situasi dalam negeri saat ini menyerupai gunung merapi yang bisa meletus kapan saja. Dia juga memperingatkan bahwa kekacauan di Saudi bisa mempengaruhi situasi global terutama Eropa serta Amerika Serikat.

"Apabila gunung berapi ini meletus, pengaruhnya tidak hanya akan berdampak pada negara atau kawasan Arab, tapi juga hingga ke Eropa," ucap Khaled. "Jadi jika Saudi mengalami kekacauan, kekacauan itu juga akan berdampak pada situasi global, dan Saudi akan menjadi lahan subur untuk terorisme sehingga bisa memperkuat eksistensi terorisme internasional," lanjut pria yang mengaku oposisi kerajaan itu.

Dalam kesempatan itu, Khaled yang sudah tidak pernah pulang ke Saudi sejak lima tahun terakhir, menganggap gebrakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang sempat menangkap 11 pangeran terkait korupsi dilakukan hanya untuk merendahkan keluarga kerajaan lainnya.

Khaled menilai penangkapan itu dilakukan Mohammed untuk mengamankan kekuasaan keluarganya yang merasa terancam. Walaupun sebenarnya, langkah Mohammed itu mendapatkan pujian tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri karena dianggap titik awal reformasi politik Saudi dimulai.

"Pemenjaraan para pangeran beberapa bulan lalu tentu saja menimbulkan trauma dalam keluarga kerajaan. Para pangeran dan keluarganya merasa takut akan masa depan mereka sendiri sebagai keluarga kerajaan berkuasa Saudi. Kedua, mereka tidak senang dengan kebijakan yang ada saat ini yang irasional, tidak menentu, dan bodoh," kata Khaled.

Khaled menganggap penangkapan belasan pangeran itu hanya akal-akalan saja. Para pangeran serta beberapa pengusaha lainya, kata dia, dibujuk pergi ke suatu hotel dengan dalih bertemu raja, namun ternyata ditangkap. Dia juga mengatakan aparat keamanan merekam seluruh percakapan telepon para pangeran itu.

"Jadi mereka berada di bawah pemantauan pribadi yang kejam terhadap privasi mereka di dalam Saudi. Mereka juga tidak diizinkan untuk pergi," ujar Khaled. Meski begitu, dia memuji gebrakan lain yang dilakukan Mohammed di Saudi seperti meningkatkan pemberdayaan hak dasar wanita mulai dari mengizinkan menyetir hingga lebih dilibatkan dalam pemerintahan.

Khaled juga memberi dukungan langkah Mohammed membatasi kewenangan otoritas keagamaan Saudi. Namun, dia menganggap semua itu dilakukan Mohammed hanya untuk melejitkan popularitasnya di mata negara Barat, dan bukanlah untuk benar-benar menerapkan reformasi di negara Timur Tengah itu.

"Pertama, mengizinkan perempuan menyetir mobil. Ini bukan bentuk kedermawanan, itu adalah memang hak dasar wanita mengemudi," ujar Khaled. "Kedua, membatasi pengaruh otoritas keagamaan Saudi. Otoritas keagamaan ini merupakan organisasi pemerintah. Lembaga ini juga harus mendukung langkah pemerintah bahkan jika langkah tersebut melanggar hukum Islam-jika kita berbicara syariat Islam," lanjutnya.

Khaled menetap di Jerman setelah mendapat suaka politik dari negara Eropa Barat itu. Sejak terasing dari kampung halamannya, Khaled kerap melakukan wawancara dengan berbagai media, menceritakan kehidupan dalam keluarga kerajaan.
Cek-cok keluarga Khaled dengan keluarga kerajaan lainnya berawal saat ayahnya dipenjara sekitar 1980 karena mendorong pemerintahan Saudi menjadi monarki konstitusional.

Ayah Khaled dikenal berasal dari keturunan klan yang tidak memiliki akses langsung terhadap kekuasaan. Keluarga Khaled juga telah lama tinggal di beberapa negara Arab lainnya. Saat ini hanya adik perempuan Khaled yang dikabarkan masih tinggal di Saudi.