BREAKINGNEWS.CO.ID-Amerika Serikat dan 30 negara sekutunya yang tergabung dalam NATO (Pakta Persekutuan Atlantik Utara) masih menggelar latihan militer terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Latihan yang dimulai 25 Oktober 2018 di Norwegia dan berakhir beberapa hari lalu itu disebut-sebut sebagai latihan perang terbesar dalam beberapa dekade, sehingga kalangan media internasional mengklaimnya sebagai persiapan menyambut Perang Dingin yang paling serius. Jerman mengirim kontingen terbesar kedua, setelah AS. Jerman berambisi memimpin pasukan gerak cepat NATO.

Latihan perang "Trident Juncture" melibatkan sekitar 50.000 pasukan, 10.000 kendaraan, 250 pesawat dan 65 kapal perang dari semua 29 anggota aliansi, ditambah Swedia dan Finlandia. Jadi, total 31 negara yang berpartisipasi. Manuver ini berlangsung selama dua minggu di ruang udara dan laut di seluruh di Norwegia.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk menguji dan melatih "Very High Readiness Joint Task Force" (VHRJTF) NATO, yang nantinya akan berada di bawah komando Jerman. Pasukan gabungan gerak cepat ini dirancang untuk mempelopori pertahanan negara anggota aliansi yang menghadapi serangan dari luar. VHRJTF NATO dirancang aliansi pertahanan Atlantik Utara itu pada tahun 2014 setelah aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea.

Jelas ini merupakan manuver militer terbesar pasca berakhirnya perang dingin. Keterlibatan lebih 50.000 serdadu dari 29 negara NATO plus Finlandia dan Swedia yang didukung 10.000 kendaraan, 65 kapal perang dan 150 pesawat, jelas bukan main-main. Wajar jika Moskow meradang karena latihan perang digelar dekat perbatasan Rusia.

Rusia, yang berbatasan dengan Norwegia, diundang NATO untuk memantau latihan perang itu. Namun Kementerian Pertahanan Rusia mengecam manuver besar-besaran itu.

"Aktivitas militer NATO dekat perbatasan kami telah mencapai tingkat tertinggi sejak masa Perang Dingin," kata Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu hari Rabu (24/10). Dia menambahkan, Trident Juncture adalah "simulasi tindakan militer ofensif."

Di internal sebagian anggota NATO sendiri latihan perang ini dikritik. Wakil pemimpin Partai Kiri- "Die Linke" di parlemen Jerman, Dietmar Bartsch, mengeritik latihan gabungan itu sebagai "menggelikan, berbahaya, dan provokatif terhadap Rusia."

"Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden AS mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan Cina serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir," kata Dietmar Bartsch kepada harian Jerman Neue Osnabrücker Zeitung.

Dalam Trident Juncture, skenarionay adalah: pasukan aliansi akan menguji kesiapan mereka untuk merebut dan mengembalikan kedaulatan Norwegia setelah diserang oleh "agresor fiktif."

Militer Jerman Bundeswehr berpartisipasi dalam manuver dengan sekitar 10.000 tentara dan 4.000 kendaraan. Selain itu, Bundeswehr mengerahkan pesawat tempur Tornado dan Eurofighter dan tiga kapal perang.

Awal 2019, Jerman akan mengambil alih komando VHRJTF NATO selama setahun.