Oleh Fadlin Guru Don, pengamat politik dari Lembaga Analisis Politik Indonesia (L-API)

BREAKINGNEWS.CO.ID - Prabowo mengaku lahir dari keturunan dan rahim Kristiani, itu pertanda bahwa negara ini tidak perlu lagi bicara soal agama dan ras dan golongan, karena kita anggap itu sudah selesai sejak asal-usul negeri ini ada. Karena yang paling penting di bicarakan adalah arah dan masa depan Indonesia. Selain itu, setidaknya kita harus berani mengatakan bahwa Prabowo adalah seorang yang tidak merasa malu mengakui asal-usulnya dengan jujur walaupun harus mendapat beragam tafsir.

Artinya, prabowo sudah siap menerima resiko sejak setelah dia ucapkan itu. Secara tidak langsung ia menangkis isu yang dialamatkan kepadanya yang sangat heboh baru-baru ini soal Pancasila versus Khilafah. Disadari betul isu itu cukup meresahkan seolah-olah negera ini sedang mendapat ancaman ideologi komunal yang serius padahal idoelogi ini sudah final.

Pancasila adalah idiologi negara, dan UUD 1945 adalah konstitusi kita, keduanya sudah final, tidak ada tawar menawar. Kita satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Tiga unsur ini adalah menjadi rantai pengikat agar eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap kokoh dan kuat.

Juga tidak bisa dijustifikasi, bahwa setelah pernyataan Prabowo itu lalu kita sembarang menafsirkan, seolah-olah umat Islam pendukung Prabowo akan keluar dan dan Prabowo dicap sebagai anti Islam.

Apalagi kita sangat berani mengklaim bahwa dibarisan Prabowo itu adalah kumpulan Islam ekstremis dan radikal. Ini berbahaya karena kita sudah menempatkan yang lain pada kelompok-kelompok tertentu yang tidak sama atau berbeda dengan kita.

Akibatnya, pada awalnya diantara kita saling berperang opini, lalu lama-lama kita akan saling mengklaim, dan pada akhirnya kita saling-silang dan sikut-menyikut hingga bermusuhan satu sama lain. Jadi untuk itu saya sangat berharap bahwa kita semua harus lebih cerdas dalam berpendapat dan memainkan isu. Setidaknya kita harus pandai memberikan keterangan kepada masyarakat kita agar kita tidak ikut terprofokasi.

Kepuasan kita pada musim Pilpres ini sifatnya sementara, 17 April 2019 akan usai, tidak ada lagi. Tetapi urusan kita berwarga negara dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pekerjaan kita sampai dunia ini runtuh.

Melalui tulisan ini, saya perlu sampaikan disini secara tegas bahwa orang Islam bukanlah orang yang harus ditakuti apalagi menjadi ancaman bagi kelompok minoritas. Islam adalah agama yang “Rahmatan Lil a’lamiin”, agama yang memberikan rahmat dan kebaikan bagi seluruh manusia dan alam semesta. Jadi tidak usah khwatir karena Islam hadir sebagai cahaya yang menerangi kegelapan.

Untuk itu, bagi saudara-saudara kami orang-orang non muslim agar melihat Islam secara total tanpa melihat islam melalui pribadi orang Islam. Tidak sedikit memang sebagian orang islam yang kita temui masih ada yang tidak baik atau masih banyak jahat, berarti mereka tidak paham esensi Islam ini datang di muka bumi ini.

Sebagai kalimat penutup dari tulisan ini, kita semua harus memulai berdiskusi dan berdialog pada taraf yang saling mencerahkan bukan lagi pada wilayah untuk saling membenarkan diri. Karena tugas kita bukan selesai pada siapa yang salah atau pada siapa yang benar serta pada siapa yang kalah dan siapa yang menang, melaingkan masa depan dan keberlanjutan kita hidup di negara kita tercinta ini.

Sudah barang tentu kita tidak ingin Indonesia negara terebesar nomor empat di dunia ini harus terpecah belah lantaran perbedaan kita yang tak usai. Maka dari itu, kepada segenap seluruh rakyat indonesia tanpa terkecuali untuk tetap menjaga dan mempertahan marwah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai bersama ini.