JAKARTA - Frekuensi hubungan seksual ditentukan oleh dorongan seksual, rangsangan seksual yang diterima, kondisi kesehatan badan serta ada tidaknya hambatan psikis.

Sedangkan dorongan seksual ditentukan oleh hormon testosteron, kondisi kesehatan, faktor psikis, serta pengalaman seksual sebelumnya. Bila ada kendala pada faktor yang mempengaruhi di atas, maka frekuensi hubungan seksual menurun.

Sebagai contoh, kalau dorongan seksual menurun, dengan sendirinya frekuensi hubungan seksual menurun pula. Bila terjadi kejenuhan terhadap suasana yang monoton, frekuensi juga menurun. Demikian sebaliknya bila faktor di atas baik, maka frekuensi meningkat. Misalnya, apabila dorongan seksual baik maka keinginan melakukan hubungan seksual juga meningkat sehingga frekuensi pun meningkat. Bila rangsangan seksual yang berasal dari pasangan cukup kuat, baik secara fisik maupun psikis, maka keinginan melakukan hubungan seksual juga meningkat. Demikina sebaliknya, bila rangsangan yang berasal dari pasangan menurun, misalnya karena hambatan komunikasi atau hilangnya daya tarik fisik, maka dorongan seksual menurun dan frekuensi menurun juga.

Kalau Anda mengalami penurunan dalam frekuensi hubungan seksual, itu dapat dipahami. Memasuki usia pertengahan, wajar kalau frekuensi hubungan seksual menurun karena beberapa hal di atas. Mungkin saja kondisi kesehatan badan tidak sebaik sebelumnya. Apalagi kalau terdapat gangguan kesehatan yang mungkin tidak Anda sadari, misalnya kadar kolesterol yang tinggi atau diabetes (kencing manis).

Pada usia pertengahan, hambatan psikis pada umumnya muncul antara lain karena kejenuhan dengan suasana bersama pasangan, beban kerja yang semakin meningkat dan tekanan mental. Tidak ada ketentuan harus berapa kali hubungan seksual dilakukan pada usia pertengahan. Berapa kalipun boleh saja dilakukan asal sesuai dengan kemauan, kemampuan dan kesepakatan dengan pasangan. Demikian juga dengan lamanya melakukan hubungan seksual, jangan ditentukan berdasarkan waktu.

Prinsipnya, hubungan seksual dilakukan untuk kepuasan dan kenikmatan bersama. Jadi bila merasa sama-sama sudah cukup puas, berarti hubungan seksual itu harmonis, berapa pun lamanya. Kalau Anda ingin menambah frekuensi hubungan seksual, perhatikan faktor yang mempengaruhinya. Kalau tidak ada faktor yang mendukung, maka frekuensi sulit ditambah. Hal yang juga penting ialah, apakah isteri Anda pun menginginkan hubungan seksual lebih sering atau tidak?