JAKARTA – Tujuh pemimpin negara ekonomi terbesar dunia yang tergabung dalam G7 (negara-negara besar dengan laju pertumbuhan ekonomi yang pesat, tergabung menjadi satu grup / The Group of Seven), diminta peraih hadiah Nobel, Malala Yousafzai untuk lebih berfokus meningkatkan investasi di bidang pendidikan bagi perempuan.

Pernyataan itu diutarakan Malala menjelang pertemuan ke-44 Negara G7 di Kanada, Jumat (8/6/2018) dan Sabtu (9/6). Pesan tersebut disampaikan aktivis perempuan asal Pakistan itu melalui sebuah rekaman video yang dirilis di akun Twitter-nya.

Dalam video tersebut, Malala menuturkan investasi pendidikan bagi perempuan dapat membantu pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan kesehatan publik. Sejak namanya dikenal publik karena membela hak pendidikan bagi perempuan Pakistan, Malala selalu mendapatkan ancaman dari kelompok pemberontak seperti Taliban. Taliban bahkan pernah mencoba membunuh Malala pada 2012 lalu, tepatnya saat dia berusia 15 tahun.

Malala ditembak dalam perjalanan pulang setelah mengerjakan ujian sekolah. Berhasil lolos dari maut, Malala dibawa ke Inggris dan menjalani operasi. Sejak saat itu dia tinggal di Inggris dikarenakan tidak bisa kembali ke kampung halamannya. Saat ini dia tengah melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Oxford.

Sejauh ini, Malala sudah mendirikan Yayasan Dana Malala dan mendukung kelompok-kelompok advokasi pendidikan lokal, terutama di negara-negara seperti Pakistan, Nigeria, Yordania, Suriah, dan Kenya. Awal Maret lalu, Malala membangun sekolah khusus untuk perempuan di Shangla, Lembah Swat, Pakistan, dari uang hadiah Nobel yang didapatnya.

Meskipun terkenal sebagai tokoh Pakistan di dunia, Malala, menuai berbagai kontroversi di negaranya. Dia kerap dikritik kalangan konservatif Pakistan karena dianggap menggambarkan citra buruk negaranya dan hanya mencari popularitas sendiri semata. Tidak hanya itu, perempuan berusia 20 tahun itu juga meyakini bahwa menjamin akses pendidikan bagi perempuan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dan belum berkembang, bisa membantu mengurangi konflik serta mempermudah penanganan isu global lainnya seperti masalah perubahan iklim

"Melalui diskusi Anda hari ini, saya meminta kalian mengingat bahwa ini bukan hanya soal kalian dan negara tapi juga menjadi momen signifikan bagi 7,6 miliar orang di dunia," kata Malala, Jumat (8/6). Dia juga menekankan masalah pendidikan bukan hanya soal ada 130 juta anak perempuan yang tak bisa bersekolah, tapi tentang 130 juta peluang yang terlewat untuk masa depan.

"Masing-masing dari Anda semua harus memilih. Saya berharap Anda semua akan memilih bersikap lebih berani dan tegas. Saya harap Anda akan memilih untuk lebih pintar. Saya berharap Anda semua akan memilih untuk meningkatkan investasi dan menjamin kualitas serta akses perempuan di setiap negara di dunia terhadap pendidikan dasar 12 tahun."