BREAKINGNEWS.CO.ID - Di tengah permasalahan politik di Venezuela akibat demonstrasi besar-besaran dalam beberapa pekan terakhir ini, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengajukan pemilihan umum (pemilu) parlemen lebih cepat.

"Kalian mau pemilu? Kalian ingin pemilu lebih cepat? Kami akan mengadakan pemilu parlemen," ujar Maduro, sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu (2/2/2019). Pemilu parlemen Venezuela ini sendiri awalnya dijadwalkan digelar pada 2020 mendatang. Akan tetapi, Maduro tak menyebut waktu pasti pemilu Majelis Konstituen yang ia gagas lebih cepat ini.

Maduro mengumumkan percepatan pemilu ini di tengah desakan oposisi dan rakyat yang meminta peralihan kekuasaan. Desakan semakin kuat setelah Juan Guaido, pemimpin institusi parlemen Venezuela, Majelis Nasional, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim (sementara) saat demonstrasi anti-Maduro meluas.

Akan tetapi, menurut seorang anggota parlemen oposisi, Armando Armas, pengumuman pemilu lebih cepat hanya taktik Maduro untuk mengambil hati rakyat. "Maduro bukan presiden dan Majelis Konstituen tak punya legitimasi, tak bernilai," tutur Armas.

Pembentukan Majelis Konstituen ini sendiri memang menjadi polemik besar di Venezuela. Maduro mendirikan majelis ini menjelang pemilu presiden untuk menggantikan fungsi Majelis Nasional yang dikuasai oposisi. Sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, pun mengangga Majelis Nasional sebagai satu-satunya institusi pemerintahan sah karena dipilih langsung oleh rakyat.

Dengan dasar pemikiran tersebut, ketika Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim, AS langsung memberikan dukungan, disusul sejumlah negara lain, seperti Kanada, Brasil, Chile, hingga Australia. Meski sudah didesak banyak pihak, Maduro tetap enggan turun takhta. Cengkeraman Maduro di Venezuela sendiri masih kuat karena militer masih mendukungnya.

Guaido pun terus menyerukan demonstrasi besar-besaran untuk mendesak militer agar membelot dari Maduro. Hingga saat ini, sudah ada dua petinggi militer Venezuela yang menyatakan dukungan pada Guaido. Mereka adalah atase militer Venezuela di AS, Jose Luis Silva, dan komandan tinggi Angkatan Udara, Jenderal Francisco Yanez.

Dalam demonstrasi anti-Maduro di Caracas pada Sabtu, Guaido pun menyerukan agar para jenderal di Venezuela mengikuti jejak Yanez dan Silva. "Saya yakin banyak pejabat dan tentara akan mengikuti gestur ini dalam, segera, segera," katanya.