BREAKINGNEWS.CO.ID - Berulangkali permasalahan menerpa salah satu maskapai penerbangan Indonesia yakni Lion Air. Dari berbagai permasalahan tersebut, secara hipotetis bisa memperbesar kepercayaan publik, bahwa maskapai ini belum termasuk kategori aman untuk digunakan sebagai alat trasportasi udara.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing mengatakan jika sudah saatnya maskapai tersebut untuk melakukan instropeksi diri terkait kekurangan-kekurangan yang ada. Ia juga mengatakan jika hal itu dilakukan tidak perlu menunggu desakan publik.

"Menurut hemat saya, sudah saatnya perusahaan ini perlu instrospeksi diri secara internal dan menyampaikan kepada publik kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam pengelolaan Lion Air selama ini. Tidak perlu harus menunggu desakan dari publik maupun yang bisa jadi berdampak keluarnya surat peringatan atau pemberian sanksi dari Kementerian Perhubungan," kata Emrus dalam keterangan tertulisnya yang diterima breakingnews.co.id pada Kamis (8/11/2018).

Menurutnya, belum kering air mata keluarga para korban jatuhnya Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang di perairan Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018). Diduga kuat kecelakaan itu menewaskan semua penumpangnya. Kini muncul kejadian baru pesawat yang lain dari maskapai ini menabrak tiang di Bandara Fatmawati Bengkulu pada Rabu (7/11/2018) malam.

"Sebagai bagian dari pertanggungjawaban publik akibat manajemen Lion Air yang masih sangat memprihatinkan ini, sudah saatnya maskapai ini menyatakan diri 'istirahat' mengudara hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan," tuturnya.

Tanpa Batas Waktu

Adapun masa rentang waktu 'istirahat' itu, lanjut Emrus, direksi perusahaan Lion Air perlu sungguh-sungguh berkontemplasi untuk menentukan satu pilihan dari tiga alternatif. "Pertama, mungkin ini saatnya para direksi mengambil keputusan bulat agar maskapai ini menyatakan diri untuk 'istirahat' terbang selama rentang waktu yang belum ditentukan. Atau kedua, kemungkinan mempertimbangkan mengganti direktur utama Lion yang mampu melakukan revolusi mental kepada segenap manajemen dan karyawan di maskapai ini, tanpa kecuali. Atau boleh jadi, perlu juga dipertimbangkan agar Lion Air merger dengan Citilink," tutur Emrus.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Lion Air JT 610 dengan rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10) lalu. Pesawat itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten. Sedianya, pesawat itu mendarat di Pangkal Pinang pukul 07.20 WIB.

Pesawat yang baru beroperasi pada 15 Agustus 2018 itu diketahui membawa 189 orang, yang terdiri dari 178 penumpang dewasa, 1 orang anak, 2 bayi, dan 8 awak pesawat. Terbaru, pesawat Lion Air rute penerbangan Bengkulu-Jakarta terpaksa batal terbang. Peristiwa terjadi saat pesawat milik maskapai berlogo singa itu sayapnya menabrak tiang di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu.

Kejadian itu terjadi pada hari ini, Rabu (7/11), sekitar 18.20 WIB. Pesawat bernomor penerbangan JT-633 rute Bengkulu-Jakarta, menabrak tiang dekat ruang tunggu VIP saat hendak lepas landas.

Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, membenarkan adanya insiden tersebut. Menurutnya, ujung kiri sayap pesawat menyenggol tiang koordinat bandara.  "Dikarenakan lekukan pada ujung sayap sebelah kiri (wing tip) menyenggol tiang lampu  koordinat di bandar udara. Kondisi tersebut terjadi ketika pesawat bersiap menuju landas hubung (taxiway)," kata Danang dalam keterangannya di Rabu (7/11).