JAKARTA - Seorang tenaga kerja Indonesia yang diduga membunuh majikannya di Arab Saudi, Eti binti Toyib, dikabarkan sudah mendapatkan pengampunan dari keluarga korban sehingga kemungkinan bisa terhindar dari hukuman mati (qisas).

"Kalau kasus Eti kabarnya sudah ada proses pengampunan dari keluarga. Ini masih berjalan terus," kata Kasubdit Kawasan II Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Arief Hidayat, di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Walaupun demikian, Arief menuturkan keluarga korban masih menuntut diyat atau denda. Mereka sempat menuntut Eti membayar hingga 30 juta riyal atau sekitar 111 miliar rupiah.

Akan tetapi, setelah bernegosiasi serta berdialog, Arief menuturkan keluarga sepakat menurunkan tuntutannya menjadi 5 juta riyal atau sekitar 18,6 miliar rupiah.

Arief menyampaikan saat ini pemerintah tengah mengupayakan mencari donor yang bisa membantu Eti membayar tuntutan tersebut.

Menurut Arief, Kasus Eti sulit ditangani karena sudah terjadi pada 2010 lalu.

"Meski kasus cukup berat karena bukti dan pengakuan yang bersangkutan di persidangan, pemerintah tetap berupaya semaksimal mungkin memberikan pendampingan dan jaminan hukum bagi Eti, bahkan seluruh WNI lainnya yang juga terancam hukuman mati di Saudi," kata Arief.

Dia mengatakan pemerintah juga sudah memfasilitasi keluarga untuk bertemu Eti di Saudi dan mendengarkan perkembangan kasusnya.

Tidak hanya Eti, Arief menuturkan masih ada 19 WNI yang terancam hukuman mati di Saudi. Sebanyak 15 kasus di antaranya terkait pembunuhan, sementara sisanya sehubungan dengan sihir.

Salah satu kasus yang paling kritis menimpa Tuty Tursilawati. Perempuan berusia 39 tahun itu divonis hukuman pancung dikarenakan dianggap bersalah membunuh majikannya pada 2010 lalu.

Tuty disebut memukul majikannya dengan sebatang kayu hingga tewas. Namun, keluarga menganggap hal tersebut dilakukan Tuty atas dasar membela diri dikarenakan kerap dibujuk untuk berhubungan intim dengan majikannya.

Kasus Tuty menjadi salah satu perhatian utama pemerintah karena keluarga majikan menolak memberi pengampunan. Sementara itu, hukuman mati baru bisa dicabut atas permintaan dan pengampunan keluarga korban.