BREAKINGNEWS.CO.ID - Utusan Khusus dan penasihat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Jason Greenblatt dan Jared Kushner berkunjung ke Yordania untuk bertemu Raja Yordania, Abdullah II di Amman pada Selasa (19/6/2018). Dalam pertemuan tersebut, proses perdamaian antara Palestina-Israel menjadi pembahasan.

Pertemuan tersebut berlangsung kurang dari satu hari setelah Raja Yordania menjadi tuan rumah untuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam kunjungan singkat. "Mereka membicarakan peningkatan kerja sama antara Amerika Serikat serta Yordania, beberapa isu regional, situasi kemanusiaan di Gaza, dan upaya pemerintahan Trump untuk memfasilitasi perdamaian antara Israel serta Palestina," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Dalam pembicaraannya dengan Netanyahu pada Senin (18/6) lalu, Raja Abdullah II menekankan pentingnya kemajuan pada upaya untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel. "(Upaya perdamaian) berdasarkan jalan keluar dua negara. Satu-satunya cara mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan adalah pembentukan negara Palestina dengan garis batas Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, yang hidup damai dan aman berdampingan dengan Israel." Perundingan perdamaian antara Israel serta Palestina sudah terhenti sejak 2014.

Keputusan kontroversial Trump pada bulan Desember 2017 lalu untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel telah membuat upaya perdamaian kembali menemui jalan buntu. Langkah ini mengakibatkan kemarahan di seluruh dunia Arab dan mendorong Palestina untuk membekukan semua kontak dengan para pejabat AS.

Palestina menginginkan Yerusalem timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, akan tetapi Israel menganggap seluruh kota sebagai ibu kota yang abadi serta tidak terpisahkan. Klaim Israel ini diperkuat oleh dipindahkannya Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Yerusalem oleh Presiden Donald Trump. Soal Yerusalem, dalam pertemuan dengan Abdullah, Netanyahu menyampaikan Israel tetap menghormati status quo di situs suci di kota tersebut, Masjidil Aqsa. "Perdana Menteri Netanyahu menegaskan komitmen Israel mempertahankan status quo situs suci Yerusalem," kata juru bicara pemerintah Israel, Ofir Gendelman.

Otoritas Palestina mengatakan pada Sabtu lalu bahwa rencana AS untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel 'ditakdirkan' tidak berhasil. Tepi Barat, termasuk juga Yerusalem timur, secara administratif terkait dengan Yordania sebelum diduduki oleh Israel pada tahun 1967. Israel, yang menandatangani kesepakatan damai dengan Yordania pada 1994, mengakui Yordania sebagai pengurus Masjidil Aqsa di Yerusalem. Berdasarkan perjanjian status quo, hanya umat Islam yang boleh beribadah di kompleks Masjidil Aqsa. Warga Yahudi boleh berkunjung, tapi tidak beribadah di dalamnya, hanya di Tembok Barat.