CARACAS--Pemerintah Venezuela menyatakan akan melarang demonstrasi menjelang pemungutan suara untuk menunjuk sebuah majelis konstitusi khusus akhir pekan ini. Langkah ini sekaligus sebuah tantangan langsung bagi para pemimpin oposisi yang merencanakan demonstrasi besar-besaran pada hari Jumat melawan pemulihan umum tersebut.

Larangan tersebut, Kamis (27/7/2017) diumumkan menjelang akhir pemogokan umum yang dipimpin oposisi. Demotransi itu  menutup beberapa pusat bisnis nasional selama dua hari. Rencananya, dimulai hari Jumat dan berlanjut sampai Selasa.

“Pemerintah melarang semua pertemuan publik dan demonstrasi, pertemuan dan tindakan serupa lainnya yang mungkin mengganggu proses pemulihan," , kata menteri dalam negeri dan menteri Keadilan, Néstor Reverol.

“Mereka yang melanggar ketentuan larangan akan mendapatkan hukuman penjara lima sampai 10 tahun,”  tambah Reverol.

Pemerintah Venezuela, di tengah krisis ekonomi dan politik yang telah memicu demonstrasi di jalanan selama berbulan-bulan, bersiap untuk mengadakan pemilihan pada Minggu (30/7/2017) yang disebut oleh Presiden Nicolás Maduro.

Pemilih akan memilih perwakilan untuk majelis khusus sebanyak 545 kursi yang memiliki kekuatan untuk menulis ulang konstitusi negara Amerika Selatan tahun 1999 dan membubarkan institusi negara.

Maduro mengatakan bahwa menulis ulang konstitusi diperlukan untuk memulihkan ketertiban, menerapkan keadilan dan membangun kembali perdamaian.

Tidak secara jelas seberapa efektif larangan protes tersebut. Pemimpin oposisi telah menyerukan demonstrasi massal Jumat di ibukota Venezuela, Caracas.

Sementara Maduro, di depan para pendukungnya, mengatakan bahwa dia telah mengusulkan pembicaraan dengan pihak oposisi, "Sebuah meja untuk dialog dan rekonsiliasi untuk tanah air," kata Maduro

Presiden maduro mengatakan bahwa dia ingin menghindari lebih banyak kekerasan dan oposisi harus berhenti melakukan demonstrasi di jalanan. "Meja damai, sebuah meja sejahtera yang nyata," teriak Maduro. "Saya akan senang jika kita bisa memasang ini sebelum (pemilihan)."

Sementara Freddy Guevara, wakil presiden Majelis Nasional, mengatakan pada hari Kamis (27/7/2017) malam bahwa demonstrasi akan berlanjut sampai hari Minggu. "Kami tidak akan berlutut, kami tidak akan gagal, kami akan bertarung," katanya kepada wartawan.