SURABAYA - Terkait dengan pelaporan harta kekayaan pasangan calon di Pilkada Jawa Yimur, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim masih menunggu penyerahan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN). KPU sendiri masih mengindentifikasi masih ada paslon yang belum menyerahkan salah satu persyaratan tersebut. "LHKPN merupakan tem syarat calon. Itu harus dilampirkan supaya pasangan calon bisa melanjutkan ke proses pencalonan berikutnya," kata Komisioner KPU Jatim M Arbayanto, Jumat (12/1/2017).

Ia mengatakan segala ketentuan yang berkaitan dengan persyaratan paslon tersebut harus segera dipenuhi. Alasannya yakni persyaratan merupakan ketentuan mutlak secara administrasi bagi pasangan calon. Jika salah satu dari persyaratan tersebut tidak dipenuhi, bisa dipastikan pencalonan tidak bisa dilanjutkan. Untuk itu, saat ini KPU menunggu upaya yang dilakukan paslon, karena memang KPU memberi waktu kepada paslon untuk melengkapi persyaratan yang kurang, seperti LHKPN. "Kita masih memberikan kesempatan kepada paslon untuk melengkapi LHKPN," ujarnya.

Berdasarkan keterangan sementara, paslon yang belum bisa menyerahkan LHKPN karena masih menunggu jawaban dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPU pun berharap paslon bisa menuntaskan persyaratan secara administrasi dengan cepat. "LHPKN nanti yang diserahkan ke KPU dalam bentuk tanda terima," jelasnya.

Selain itu, ada calon yang belum menyerahkan ijazah dan surat pengunduran diri atau cuti dari jabatan saat ini. Mereka baru melampirkan surat pernyataan bersedia mundur atau cuti. Karena empat kandidat peserta pilgub Jatim memiliki jabatan yang berbeda. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang merupakan Wakil Gubernur Jatim nantinya setelah ditetapkan sebagai cagub oleh KPU, dia harus mengajukan cuti. Demikian juga dengan Khofifah Indar Parawansa, Menteri Sosial yang harus mengundurkan diri. Hal yang sama juga harus dilakukan Emil Dardak yang masih berstatus sebagai Bupati Trenggalek. Tiga orang tersebut harus cuti dari jabatannya. Khusus Puti Guntur Soekarno yang menjabat anggota DPR RI harus menyerahkan surat mundur dari jabatannya. "Syarat pengunduran diri maksimal 30 hari sebelum pemungutan suara," kata Komisioner KPU Jatim Khoirul Anam.