JAKARTA – Pada saat pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bertemu di Singapura pada 12 Juni 2018, bintang bola basket, National Basketball Association (NBA) yang berhubungan baik dengan pemimpin Korut, Dennis Rodman dikabarkan akan bertolak ke The Lion City, Julukan Singapura.

Rodman disebut-sebut berhubungan baik dengan Kim Jong-un dan sudah berkunjung ke Korea Utara sebanyak lima kali mulai sejak 2013 lalu. Foto-foto keduanya tampak akrab pun sudah lama tersebar.

Mantan atlet berjulukan "The Worm" akan tiba di negara tersebut satu hari sebelum pertemuan yang akan digelar pada 12 Juni. Sejumlah sumber menuturkan ia bahkan berperan dalam negosiasi.

"Apapun yang Anda pikirkan terkait kehadirannya. Satu hal yang pasti, rating-nya akan besar," kata seorang sumber New York Post. "Sering kali, dalam situasi yang membutuhkan diplomasi rumit, negara-negara menunjuk duta besar maksud baik dan setuju atau tidak Dennis Rodman cocok jadi sosok itu."

Namun, laporan dari The Washington Post meragukan kemungkinan itu. Mantan  pebasket Chicago Bulls disebut belum yakin akan berangkat ke Singapura, dan kalaupun dia berangka, kemungkinan itu hanya dilakukan untuk sensasi dalam rangka memberi dukungan sebuah perusahaan bernama PotCoin.

Laporan itu mengutip Trey Yingst, kepala koresponden Gedung Putih untuk One America News Network, media yang memberitakan kehadiran Rodman berfokus pada promosi perusahaan. Potcoin mendeskripsikan diri sebagai "cryptoccurrency berbasis komunitas untuk mariyuana legal." Tidak hanya berhubungan baik dengan Kim, Rodman juga dua kali menjadi peserta acara televisi Trump, "Celebrity Apprentice," membuatnya jadi satu dari sedikit orang yang pernah menemui kedua pemimpin negara berseteru.

Pada April, Rodman mengklaim membantu membuat Kim berubah pikiran soal Presiden AS dengan memberikan sebuah salinan buku Trump berjudul "The Art of the Deal." "Saya selalu bilang dia bocah besar," kata Rodman bercerita soal Kim pada Agustus tahun lalu, ketika Trump berjanji akan membalas ancaman Korut dengan "api dan kemarahan."

"Kami selalu bicara soal bola basket, itu saja yang kami bicarakan adalah soal basket. Tak ada politik, tak ada soal Amerika lawan Korea Utara, kami tak bicara soal masalah seperti itu. Obrolan selalu ringan saja. Bagi saya, dia tidak mau berperang. Cara dia berbicara pada saya, dia sama sekali tidak mau berperang," kata Rodman. "Mungkin kelihatannya seperti itu di berita, tapi saya lihat Donald Trump dan dia lebih seperti dua bocah besar."

"Siapa yang terkuat? Karena saya tak tahu mengapa dia, di mata saya, bahkan sedikitpun terpikir untuk mengebom apapun di dunia. Saya tak pernah dengar dia mengatakan itu di depan wajah saya dan kami mengobrol terus."