BREAKINGNEWS.CO.ID  - Rencana Kemendikbud untuk menyiapkan skenario belajar dari rumah hingga akhir tahun 2020 mendapatkan dukungan dari Yanti Airlangga. Ketua Umum Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) ini menilai para pelajar atau peserta didik, khususnya yang masih di tingkat sekolah dasar dan pendidikan usia dini sangat rentan terhadap penularan Virus Corona.

“Kami mendukung rencana Kemendikbud agar anak-anak sekolah masuk kelas lagi pada awal tahun depan. Anak-anak, saya kira belum dapat menahan diri untuk menjaga jarak dan berdisiplin dengan kondisi new normal (normal baru),” kata Yanti Airlangga.

Sementara di sekolah jumlah tenaga pengajar yang bisa mengawasi perilaku anak-anak tersebut terbatas jika dibandingkan dengan banyaknya murid. “Anak-anak pasti ingin bermain, bercanda dan bergaul dengan teman-temannya. Susah menerapkan disiplin protokol kesehatan yang ketat untuk mereka. Ini harus menjadi pertimbangan,” kata Yanti Airlangga.

Bagi istri dari Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto itu, kesehatan adalah  yang utama. “Apalagi bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus kita. Mereka harus benar-benar dilindungi agar jangan sampai terpapar Covid-19,” ungkap Yanti.

Untuk dapat menerapkan proses belajar mengajar yang baik, Yanti berharap Kemendikbud dan pemerintah agar memikirkan sistem pendidikan yang tepat. “Anak-anak tetap harus sekolah dan menuntut ilmu, namun harus dipikirkan cara terbaik seperti belajar dari rumah dengan sistem yang lebih efektif,” tutur Yanti Airlangga.

“Kami juga berharap, anak-anak tetap mendapatkan haknya untuk belajar dengan meminimalkan risiko terpapar Covid-19. Jika jalan keluarnya adalah tetap belajar di rumah, sebaiknya itu dilakukan dan tentu murid serta guru harus bisa beradaptasi dengan cara belajar baru ini,” tegas Yanti Airlangga.

Saat ini tercatat sebanyak 97,6 persen sekolah sudah melakukan pembelajaran jarak jauh. Sisanya sebanyak 2,4 persen belum melakukan karena daerahnya tidak terjangkit corona atau tidak memiliki perangkat pendukung belajar jarak jauh.

Dari jumlah 97,6 persen itu, terdapat 54 persen sekolah sudah melakukan pembelajaran jarak jauh sepenuhnya. Dalam sistem itu guru dan siswa mengajar dan belajar dari rumah.

Sementara terdapat pula 46 persen guru masih mengajar dari sekolah, tapi muridnya tetap berada di rumah. Pasalnya masih ada pula beberapa daerah yang masih mewajibkan guru-guru datang ke sekolah.

Jika kegiatan belajar mengajar di rumah diperpanjang hingga akhir tahun, maka harus ada penyesuaian kembali dengan tahun ajaran baru. Kemendikbud diharapkan bisa membuat penyesuaian agar tiap sekolah dapat menjalankan KBM (kegiatan belajar mengajar) pada masa tahun ajaran baru.