BREAKINGNEWS.CO.ID- Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk melakukan kajian dan evaluasi terhadap efektivitas Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) yang mengatur larangan ekspor rotan setengah jadi yang banyak dikeluhkan oleh penghasil rotan. 
 
Diketahui, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor rotan mentah dan setengah jadi yang tercantum pada Permendag No. 35 tahun 2011 dan dipertegas melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 44 tahun 2012, 
 
"Mengingat peraturan tersebut membuat industri rotan terpuruk," ujar Bambang kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/3/2019). 
 
Selanjutnya Bambang mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk melakukan bimbingan teknis, pelatihan, dan pendampingan terhadap para pengrajin rotan dan industri rotan.
 
"Agar dapat mengolah rotan-rotan tersebut menjadi barang jadi bernilai tinggi yang dapat diekspor," katanya.
 
Selanjutnya Bambang mendorong Kemendag untuk memberikan kemudahan kepada industri rotan dalam perizinan ekspor dan membuka pasar rotan baru, sehingga industri rotan tidak hanya bergantung pada pasar dalam negeri.
 
Diketahui, Kemenperin mengklaim, kebijakan larangan ekspor rotan mulai menunjukkan hasil positif berupa permintaan buyers baru ke pelaku industri mebel rotan nasional. Kebijakan larangan ekspor yang tertuang dalam Permendag No 35/2011 tentang Ketentuan Ekspur Rotan dan Produk Rotan membuat ekspor rotan dalam tiga bulan terakhir naik 36%.
 
"Dalam tiga bulan pertama tahun ini ekspor mebel rotan sudah naik 36%," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam kunjungan kerja ke sejumlah industri di Kudus, Jawa Tengah, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Neraca, Selasa (5/6). Oleh karena itu, Hidayat menegaskan kebijakan pelarangan ekspor rotan akan terus dilanjutkan untuk meningkatkan daya saing produk mebel, khususnya yang berbasis rotan. Untuk mengatasi masalah selama masa adaptasi terhadap kebijakan yang diluncurkan November tahun lalu itu, pemerintah dalam hal ini Kemenperin telah berupaya mendirikan sentra industri mebel rotan di sentra produksi rotan, seperti Katingan, Kalimantan Tengah.
 
Menperin mengatakan ada dua cara yang akan dilakukan untuk membantu petani pengumpul rotan yaitu produksi mebel dan kerajinan lokal di daerah tersebut dikirim secara terurai atau knock down ke Pulau Jawa sebagai pasar terbesar. Kedua meminta pengusaha lokal membeli bahan baku rotan tersebut dan membuatnya menjadi rotan setengah jadi yang kemudian dikirim ke Pulau Jawa untuk diproses lebih lanjut. "Kami mengimbau swasta, para pelaku industri rotan membuat skema pendanaan untuk membeli rotan dari para petani pengumpul," katanya.
 
Hidayat mengatakan industri rotan memiliki daya saing komparatif yang tinggi karena Indonesia merupakan penghasil rotan terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 90%. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan (annual allowable cut, ACC) 2012 produksi rotan Indonesia sebesar 143.120 ton. Tahun lalu ekspor mebel dan kerajinan rotan mencapai US$168,411 juta dari 590 unit usaha.