BREAKINGNEWS.CO.ID - Aplikasi FaceApp yang tengah viral di dunia serta hasilnya banyak diunggah di media sosial mendapat kecaman bahkan larangan. Di beberapa negara Timur Tengah seperti Mesir dan Arab Saudi pernyataan keras sudah muncul. Di Amerika Serikat juga muncul peringatan dari petinggi partai demokrat.

Di Mesir, muncul pernyataan bahwa aplikasi FaceApp haram karena mengubah ciptaan Tuhan. Dikutip media Mashable, di Mesir FaceApp dianggap haram oleh seorang lulusan salah satu Universitas Islam paling terkenal di Mesir, Essam al-Roubi. Menurutnya FaceApp Challange yang sedang menjadi tren di media sosial adalah tren yang haram.

FaceApp, aplikasi yang bisa membuat pengguna seolah-olah bisa mengetahui wajah ketika mereka tua. Aplikasi ini diharamkan karena belum tentu wajah pengguna seperti yang ditampilkan aplikasi di masa depan. Al-Roubi mengatakan hanya Allah yang tahu hal-hal yang akan terjadi kepada manusia

"Apakah gambar-gambar ini benar-benar menunjukkan apa yang akan terjadi pada orang? Tidak. Hanya Tuhan yang tahu itu," kata Al-Roubi. Ia juga mengutip beberapa ayat dari Alquran. Salah satu ayat yang ia klaim mendukung pernyataannya adalah ayat 119 Surat AN-Nisa. Al-Roubi juga mengutip ayat 70 Surat al-Israa.

Lain halnya dengan Amerika Serikat, Polandia, hingga Lithuania, Arab Saudi yang juga mengecam. Namun kecaman bukan persoalan iman atau keyakinan. Negara-negara itu lebih menyoroti adanya mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan data pribadi para pengguna FaceApp.

Dilansir dari Arab News, Otoritas Keamanan Siber Nasional (NCA) telah memperingatkan agar masyarakat tidak 'ketagihan' FaceApp. Sebab, aplikasi itu tengah diselidiki terkait privasi, lantaran diduga kurang bertanggung jawab atas data pribadi penggunanya.

Aplikasi memungkinkan pengguna untuk mengunggah foto wajah dan mengubahnya agar terlihat lebih tua. Belakangan feed media sosial dipenuhi oleh gambar tua jutaan pengguna yang tersebar di lebih dari 100 negara.

NCA kini telah memperingatkan agar tidak menggunakan FaceApp. NCA menekankan agar tidak memberikan FaceApp akses ke gambar pengguna.

Profesor bidang keamanan siber dari King Saud University, Muhammad Khurram Khan mengatakan pengguna terobsesi menggunakan aplikasi untuk bersenang-senang. Namun, di sisi lain pengguna tidak memerhatikan potensi kebocoran data pribadi.

"Saat ini banyak orang yang tampaknya terobsesi dengan beberapa aplikasi ponsel cerdas, yang digunakan untuk bersenang-senang atau hiburan. Mereka tidak takut dan mengetahui terkait privasi mereka yang bisa digunakan sebagai tujuan jahat," kata Khan.

Khan mengatakan kebijakan privasi FaceApp tidak jelas mengenai prosedur perusahaan melindungi data pengguna. Akan tetapi, perusahaan mengklaim bahwa tidak ada data yang disalahgunakan.

Khan menjelaskan secara eksplisit bahwa perusahaan membagikan informasi dengan 'mitra iklan pihak ketiga'. Khan juga menjelaskan agar pengguna tak hanya menggunakan aplikasi untuk bersenang-senang, tapi harus memerhatikan dari sisi keamanan data juga.

"Persyaratan layanan FaceApp terlihat memungkinkan pengguna untuk memberikan akses ke semua foto yang disimpan, dan tidak ada yang tahu kapan dan dengan siapa data ini dapat dibagikan atau digunakan," kata Khan.