BREAKINGNEWS.CO.ID - Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Muslim Indonesia (AMI) kembali berunjuk rasa didepan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, hari ini.

Dalam aksinya kali ini, di momen masa tenang Pemilu 2019, mereka bakal terus menjaga dan mengawal lembaga antirasuah tersebut agar tetap independen dan netral sampai masa pencoblosan 17 April 2019 besok.

"KPK Netral yes, KPK bermain politik No !! Hari tenang KPK jangan bermanuver dan jangan buat blunder yang bisa membuat situasi memanas," ungkap Koordinator aksi AMI Ahmad saat berorasi, Selasa (16/4/2019).

Menurut Ahmad, pihaknya memastikan akan terus mengawal KPK agar tetap berdiri netral sampai hari pencoblosan. "Jadikan hari tenang tanpa ketegangan. Tahan sampai Pemilu, agar situasi politik tidak gaduh," ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmad mengaku khawatir dengan isu adanya oknum pegawai KPK yang terafiliasi partai politik. Kata dia, rakyat tidak ingin Komisi pemburu koruptor yang nota bene dibiayai rakyat itu justru bermanuver di tahun politik.

"Sudah kasat mata, ada mantan pimpinan KPK masuk dalam barisan pendukung capres dan masuk dalam susunan calon Menteri dan itu diumumkan saat berkumpul di Surabaya," sesal Ahmad.

Untuk itu, Ahmad menegaskan pihaknya berharap lembaga tersebut dapat menjaga situasi perpolitikan tanah air agar tidak semakin memanas dengan tidak melakukan gerakan yang justru membuat polemik jelang pencoblosan.

"Sangat rawan jika ada segelintir oknum KPK yang ingin memuaskan nafsu untuk mendapatkan singgasana bermanufer jelang Pemilu. Sekali lagi, hari tenang jangan bikin tegang," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, massa AMI juga melakukan istighosah Jumat barokah berupa pembacaan yasinan, tahlil dan doa pada Jum'at (12/4/2019) lalu.

Mereka mendoakan agar pimpinan KPK dan jajaran pegawainya tidak bermanuver supaya tetap netral, tidak bermain politik praktis di Pilpres 2019. Hal itu dilakukan menyusul adanya kontroversi penyidik senior KPK, Novel Baswedan disebut orang kita 'Gerindra', dan bakal dijanjiin jabatan Jaksa Agung apabila Prabowo-Sandi menang di Pilpres 2019. Polemik itu pun menimbulkan reaksi gelombang unjuk rasa didepan lembaga antirasuah tersebut.

"Hari ini kami berdoa dan akan terus mengawal sampai hari pencoblosan 17 April agar pimpinan dan pegawai KPK tidak bermain politik praktis. Jangan berat sebelah, jika hendak melakukan pemberantasan korupsi," ungkap Koordinator AMI, Muhammad Nur.

"Kami dapat informasi jika ada konspirasi kelas tinggi alias politik tingkat tinggi di internal KPK. Nampak sekali di momen 2 tahun Novel kemarin banyak penampakan orang-orang yang dibelakang layar," sambung Nur.