BREAKINGNEWS.CO.ID – Kapal perusak rudal milik Amerika Serikat (AS), USS McCampbell, dikabarkan berlayar di dekat Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan (LCS) yang menjadi sengketa. Padahal AS dan Cina saat ini sedang dalam tahap perundingan terkait perang dagang pada 7-8 Januari 2019 di Beijing.

Juru bicara Armada Angkatan Laut AS Ke-7 di Pasifik, Rachel McMarr menyebut kapal perang AS itu berlayar 12 mil atau 19 kilometer dari Kepulauan Paracel. Alasannya untuk menentang klaim maritim yang berlebihan. McMarr menegaskan manuver USS Campbell di perairan tersebut merupakan bentuk kebebasan berlayar, dan bukan provokasi politik atau merujuk pada suatu negara tertentu.

Pulau Paracel hingga saat ini masih menjadi sengketa antara Vietnam dan Cina, yang juga mengklaim hampir 90 persen wilayah Laut Cina Selatan. Sementara itu, pelayaran USS McCampbell berlangsung ketika pejabat AS-Cina tengah menggelar dialog penyelesaian perang dagang di Beijing.

Dialog tersebut merupakan yang pertama dilakukan oleh kedua negara setelah sepakat menangguhkan perang tarif selama 90 hari ke depan. Pada Desember 2018 lalu, Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Cina, Xi Jinping sepakat menangguhkan perang tarif yang dijatuhkan kepada barang impor dari kedua negara.

Trump menjatuhkan tarif pada barang-barang Cina dengan alasan menekan mereka untuk mengubah praktik perdagangan yang dianggap curang dan merugikan AS. Dalih lainnya adalah sebagai sanksi atas spionase yang disebut Trump dilakukan perusahaan Cina di Negeri Paman Sam. Tidak hanya dalam perdagangan, AS dan Cina jga memiliki sejarah di Laut Cina Selatan. AS menentang keras pembangunan pulau buatan dan instalasi militer Cina di Laut Cina Selatan.

Laut Cina Selatan menjadi rawan konflik setelah Beijing mengklaim 90 persen wilayah di perairan kaya mineral dan sumber daya itu. Laut Cina Selatan juga menjadi salah satu jalur perdagangan terpadat dengan nilai perdagangan mencapai 5 triliun dolar AS atau sekitar 7.0460 miliar rupiah setiap tahunnya. Klaim Cina terhadap Laut Cina Selatan tumpang tindih dengan klaim sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, bahkan Taiwan.