BREAKINGNEWS.CO.ID - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Iqram Saputra menghadirkan notaris Ahmad Bajuni sebagai saksi fakta perkara memalsukan keterangan kedalam akta otentik dengan terdakw Hasim Sukamto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu (10/6/2020). Iqram memberondong saksi dengan sejumlah 'pertanyaan kunci' dipersidangan yang dipimpin Majelis Hakim Djoeyamto Hadi Sasmito.
 
Kepada saksi, JPU Iqram mempertanyakan keabsahan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan No. 64 tahun 2017 dan Ni. 63 tahun 2017 yang dikeluarkan oleh kantor notaris Ahmad Bajuni. Sebab, ada ketidaksesuaian apa yang dijelaskan saksi dalam keterangannya dipersidangan dengan yang tercantum di dalam surat akta tersebut.
 
"Surat fisik ini yang membuat kantor Bapak?" tanya JPU Iqram kepada saksi Ahmad Bajuni, dengan nada datar. 
 
"Ya, kantor saya. Kalau yang membuatnya staf," jawab saksi pelan.
 
Lalu Iqram membacakan redaksi surat dokumen itu, yang menyebut bahwa proses penerbitan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan No. 64 tahun 2017 dan No. 63 tahun 2017 dihadiri oleh saksi-saksi, yakni Ali Bangun dan Melliana Susilo. 
 
Isinya berbunyi, seolah-olah Ali Bangun dan Melliana Susilo hadir sebagai saksi menghadiri proses pembuatan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan yang dilakukan melalui kantor notaris Ahmad Bajuni tersebut. Padahal, faktanya tidak.
 
"Berarti surat ini menerangkan bahwa kedua saksi itu hadir kehadapan Bapak. Coba terangkan arti hadir dihadapan saya ini, apa?" lontar JPU Iqram kepada saksi.
 
Menjawab pertanyaan itu saksi menerangkan bahwa yang dimaksud 'hadir' didalam surat keterangan itu adalah bahwa tandatangan kedua saksi telah hadir dihadapan notaris.
 
Merasa tak puas dengan jawaban itu, JPU kemudian mengejar saksi dengan menyatakan mengapa penjelasannya tidak ditulis dengan kata 'diwakili' atau ditandatangani sehingga tidak menimbulkan pengertian yang keliru.
 
Iqram kembali mengejar saksi dengan pertanyaan memancing. "Dengan tidak dipenuhi syarat-syarat dari format yang ditentukan, apakah surat ini berlaku," kejar Iqram 
 
Menjawab itu saksi menegaskan sepanjang tidak ada pembatalasan tetap berlaku. Jadi, berlaku atau tidak berlaku itu, kata saksi jika ada dilakukan pembatalan. 
 
Saksi menerangkan surat dinyatakan tetap sah sepanjang dibubuhi tandatangan dan orangnya tidak hadir. "Itu jatuhnya surat di bawah tangan, karena kurang memenuhi persyaratan," jelas saksi Ahmad Bajuni.
 
"Persyaratannya kurang karena ketidakhadirannya," sambung saksi.
 
Saksi Ahmad Bajuni yang ditanyai wartawan terkait proses penerbitan surat dikantor notarisnya, menolak semua pertanyaan wartawan. "Maaf saya keberatan diminta pendapat soal ini, karena sudah diluar arena sidang," kelitnya dan berlalu menjauh dari kejaran wartawan.
 
Dihadapan majelis hakim saksi Ahmad Baijuni menerangkan proses terbitnya surat akta tanggungan dilakukan Desember 2017 di rumah terdakwa Hasim Sukamto.
 
Saksi mengatakan surat akta otentik diterbitkan karena adanya permohonan kredit yang diajukan terdakwa kepada Bank CIMB Niaga Niaga cabang Mangga Dua Square, Jakarta Utara. "Saya diminta CIMB Niaga untuk membuat akta. Saya adalah salah satu rekanan CIMB Niaga," urai saksi.
 
 Seperti diberitakan sebelumnya, Hasim Sukamto didakwa telah melanggar Pasal 266 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dengan cara mengagunkan harta bersama berupa Sertipikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor 7317/Sunter Agung dan SHGB Nomor 883/Sungai Bambu sebagai jaminan di Bank CIMB Niaga Niaga cabang Mangga Dua Square, Jakarta Utara. Hal itu, dilakukan terdakwa untuk mendapatkan kucuran kredit senilai Rp23 miliar atas nama PT Hasdi Mustika Utama yang bergerak di bisnis playwood.
 
Atas permohonan terdakwa, pihak Bank CIMB Niaga Niaga lalu menunjuk kantor Notaris Ahmad Bajuni, SH untuk melakukan proses pemeriksaan dan keabsahan dokumen pendukung lainnya berupa surat kuasa membebankan hak tanggungan akta jaminan fiducia dan akta kuasa membebankan hak tanggungan yang seolah-olah telah mendapat persetujuan dari saksi Melliana Susilo selaku istri terdakwa. 
 
Padahal, Melliana selaku istri terdakwa tidak pernah menghadiri pemanggilan yang pernah dilayangkan sebanyak 4 kali oleh kantor notaris Ahmad Bajuni.