BREAKINGNEWS.CO.ID – Sentimen eksternal dan sejumlah isu membuat pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada awal transasksi bisnis, Kamis (25/10/2018).

Bersamaan dengan IHSG, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah sebesar 16 poin ke posisi Rp15.205 dibandingkan sebelumnya Rp15.189 per dolar AS.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks dibuka melemah 79,46 poin atau 1,39 persen menjadi 5.629,95.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 10,70 poin atau 2,22 persen menjadi 871,39. "IHSG terkena dampak pemberatan pasar, terutama dari luar negeri yang masih dibayangi konflik politik, termasuk persoalan perang dagang Amerika Serikat dan Cina" kata Alfiansyah dari Valbury Sekuritas,di Jakarta, Kamis.

Selain itu, investor juga terpengaruh sentimen neraca keuangan Italia yang mengalami defisit. Uni Eropa (UE) meminta Italia untuk menurunkan defisit fiskal 2,4 persen PDB karena melanggar aturan UE.

Sementara dari dalam negeri, lanjut dia, sentimen laporan keuangan emiten kuartal ketiga 2018 yang relatif cukup postif akan sedikit meredam sentimen negatif dari pasar eksternal.

Sedangkan menurut Reza Priyambada dari CSA Institute, pergerakan rupiah yang kembali melemah turut membebani pergerakan pasar saham domestik. "Pelaku pasar melanjutkan aksi jual seraya menanti sentimen positif baru yang muncul," katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks nikkei melemah 745,84 poin (3,38 persen) ke 21.345,94, indeks Hang Seng melemah 516,83 poin (2,05 persen) ke 24.732,94, dan indeks Strait Times melemah 40,46 poin (1,33 persen) ke posisi 2.991,62.

"Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terimbas mayoritas mata uang dunia yang mengalami depresiasi terhadap dolar AS," urai Reza.

Ia mengatakan dolar AS masih menjadi pilihan pelaku pasar dalam menjaga nilai asetnya di tengah ketidakpastian sentimen global, meskipun Presiden AS Donald Trump berbeda pendapat dengan Gubernur The Fed Jerome Powell. "Pelaku pasar masih yakin ekonomi AS masih akan terus tumbuh," katanya.

Sementara itu, lanjut dia, adanya sentimen positif dari dalam negeri diantaranya optimisme Kementerian Perdagangan terhadap target transaksi dagang di Trade Expo Indonesia 2018 yang mencapai 1,5 miliar dolar AS diharapkan dapat menahan tekanan rupiah lebih dalam.