BREAKINGNEWS.CO.ID -  Pernah liburan berkonsep back to nature dan family friendly? Ke destinasi yang super keren dan tenang di sekitaran Danau Toba? Kalau belum, baiknya Anda agendakan liburan ke Bakkara, Humbahas. Di sini, Anda tidak hanya mendapatkan experience, tetapi juga bisa bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

Fakta ini terekam jelas pada program live homestay di Bakkara. Puluhan peserta dari Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia dibuat terpana. Semua dibuat betah di Bakkara. Di hari terakhir even, Sabtu (27/7/2019), semuanya sampai ogah pulang ke Malaysia.

“Hari terakhir di Bakkara, Tim dari Universiti Teknologi Mara, Melaka tidak mau pulang. Mereka terkesan dengan keramahan penduduk. Senang dengan makanan yang dimasak penduduk. Mereka bilang sangat lezat," tutur Pembimbing Inspire Travel and Tourism Learning Center Jakarta Krisanti Kurniawan, Sabtu (27/7).

 Bakkara memang tak hanya menawarkan panorama yang menawan. Tidak hanya menawarkan kekayaan cerita masa lalu. Lebih dari itu, ada perubahan sikap positif yang bisa dibawa pulang ke Malaysia. Orang yang super cuek bisa menjadi sangat perhatian. Yang pendiam bisa ceria. Yang lebih penting lagi, semua tamu bisa lebih menghargai kebersamaan bersama sesama manusia.

“Konsepnya ada interaksi antar manusia. Di Bakkara milenial Malaysia kami ajak tidur di rumah masyarakat. Makan di rumah Kepala Desa. Trekking, rafting, mengolah kopi, sampai menenun,” timpal Rode Ayu Wahyuningputri, Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kemenpar.

Dengan konsep seperti itu, wisata di Bakkara diyakini bisa bernafas panjang.

Ada kekompakan yang tercipta. Experience baru yang didapatkan. Ada juga kenangan manis yang dibawa pulang ke Malaysia. Dan semuanya, bisa diceritakan ke milenial Malaysia lainnya. "Mereka sampai membantu panen bawang penduduk. Membantu petani mendapatkan gabah dengan cara manual. Dan semuanya happy. Saya sampai mendapat laporan ada tim Sinambela yang tidak mau dipisahkan sampai hari terakhir. Jalan sama-sama. Sewa motor sama-sama. Naik mobil pun rela berdesak-desakan meski ada space kosong di mobil lain. Ini luar biasa," sambung Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar  Lokot Ahmad Enda.

Lantas apa yang membuat Bakkara begitu istimewa? Bukankah penginapannya biasa saja? Jauh dari kesan glamor? Tak ada televisi. Tak ada wifi. Semua tamu hanya dihibur oleh sejuknya udara, alam yang keren, budaya dan kuliner Batak buatan masyarakat lokal. 

“Kuncinya ada di interaksi dengan masyarakat lokal. Milenial Malaysia jadi bisa mempelajari budaya Batak. Banyak yang terbiasa mengucapkan Horas. Dan ini diucapkan dengan penuh respek,” tutur Kepala Sub Bidang (Kasubid) Bidang Pengembangan Destinasi Area I B, Andhy Marpaung.

Ada dampak positif untuk masyarakat. Ada juga dampak positif untuk tamu. Masyarakat dididik untuk mandiri. Bukan orang yang selalu meminta.

Sementara untuk tamu, bisa membawa pulang cerita dan pengalaman yang menyentuh dan menginspirasi selama menginap di Bakkara.

 

Realita ini membuat Menpar Arief Yahya makin bersemangat mengembangkan Bakkara yang ada di sekitaran Danau Toba. Dia menilai, Bakkara sudah punya modal dasar yang sangat oke. Ada nature yang keren. Juga cerita seputar Sisingamangaraja yang mempesona.

“Planet/Alam, People/Masyarakat, Prosperity/Kesejahteraan dan Purpose/tujuan yang saya sebut 4P harus diperhatikan. Ini rumus pengembangan pariwisata yang terbaik. Ingat, semakin dilestarikan, akan semakin menyejahterakan. Wisatawan zaman now tidak hanya sekedar berkunjung ke destinasi, tapi juga terlibat menjaga lingkungan, budaya, juga berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Travel, enjoy, respect!,” jelas Arief Yahya, menteri yang berhasil membawa Kemenpar nomor 1 dan terpilih sebagai The Best Ministry Of Tourism 2018 se-Asia Pasifik itu.