BREAKINGNEWS.CO.ID -   Tak seperti penanaman modal lewat saham dan deposito, investor yang sudah menanam dananya di perusahaan star up  atau rintisan tak bisa dengan mudah menarik dana mereka.

Pasalnya,  mekanisme investasi di bidang ekonomi digital ini tak sama dengan model investasi konvensional. 

Menurut Kepala BKPM Thomas Lembong,   investor startup hanya bisa keluar dengan cara aksi korporasi,  seperti  penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Sehingga saham yang dimiliki oleh investor yang ingin keluar bisa dilepas ke publik. "Lalu bisa juga porsi investasinya dijual ke investor lain atau bisa juga dengan nilainya dinolkan," papar Thomas di Jakarta,  kemarin.

 Makanya, ucap dia, tidak benar jika ada yang berpendapat investor di startup bisa menarik dananya kapan saja dari Indonesia. Dan pemerintah pun tak mau ambil pusing dengan suara-suara minor tersebut,  lantaran regulasinya yang sudah jelas.

Sebaliknya,  investor juga sudah paham betul mengenai mekanisme berinvestasi terhadap ekonomi digital. Sehingga, mereka juga menerima risiko investasi di perusahaan jenis startup. "Potensi keuntungan investasi kan besar, jadi investor juga siap ambil risiko," terang Thomas.

Thomas menjelaskan kalau mayoritas investor startup berasal dari asing. Rata-rata, investor asing menggelontorkan dananya untuk menyuntikkan dana segar ke startup di Indonesia berkisar 2 juta dolar AS per tahun.

Ia mengklaim jumlah itu setara dengan 15 persen sampai 20 persen dari rata-rata Penanaman Modal Asing (PMA) yang masuk sebesar 9-12 juta dolar  AS. Meski belum mendominasi, tapi Thomas mengklaim investasi asing di startup telah menyelamatkan realisasi PMA di Indonesia tak jeblok selama dua tahun terakhir.

"Jadi saya tentu terima kasih, kalau bukan karena tren ini dana deras masuk ke startup mungkin (realisasi investasi) turun," ucap Thomas.

Sebagai catatan, realisasi investasi sepanjang 2018 sebesar Rp721,3 triliun atau tumbuh 4,1 persen dari 2017 sebesar Rp692,8 triliun. Pertumbuhannya investasi tahun lalu melambat bila dibandingkan dengan 2017 yang mencapai 13,1 persen.

Bagaimana tidak, jumlah PMA yang masuk turun signifikan sebesar 8,8 persen dari Rp430,5 triliun menjadi Rp392,7 triliun. Beruntung, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) naik 25,3 persen menjadi Rp324,8 triliun dari Rp262,3 triliun.