JAKARTA - Investigasi atas dugaan serangan senjata kimia di Douma, Suriah pada 7 April 2018, telah dimulai oleh tim penyelidik pada Minggu (15/4/2018). Peristiwa itu memicu serangan gabungan Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris terhadap instalasi militer dan pusat penelitian ilmiah Suriah.

Delegasi dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) tiba setelah militer negara itu mengumumkan bahwa mereka sudah membebaskan wilayah Ghouta Timur dari teroris. Perang di kawasan itu berlangsung selama dua bulan dan menewaskan hampir 2.000 warga sipil.

"Unit pasukan bersenjata kami yang berani, dan pasukan tambahan serta sekutu, menyelesaikan pembebasan Ghouta Timur, termasuk seluruh kota dan desa dari organisasi teroris bersenjata," demikian bunyi pernyataan militer Suriah.

OPCW menegaskan akan tetap bertugas walaupun sempat terjadi serangan gabungan yang dikoordinasi Amerika Serikat. "Tim pencari fakta tiba di Damaskus pada hari Sabtu dan dijadwalkan berangkat ke Douma pada Minggu," kata Ayman Soussan, Wakil Menteri Luar Negeri Suriah. Misi OPCW itu tiba di Douma pada hari kedelapan pasca-serangan senjata kimia, hal tersebut memicu kekhawatiran akan perusakan barang bukti.

OPCW datang untuk menyelidiki serangan di Douma atas undangan Suriah dan sekutu utamanya, Rusia. Kedatangan tim penyelidik diharapkan akan mencegah ancaman pembalasan oleh Barat.