BREAKINGNEWS.CO.ID -  Keputusan Bank Indonesia untuk kembali memangkas suku  bunga acuan pada Kamis (19/9/2029), mengikuti langkah bank sentral AS atau the Fed yang sebelumnya membuat keputusan tersebut, berdampak positif kepada nilai tukar rupiah.

Ini terlihat  dalam  transaksi valuta asing antar bank di Jakarta dimana  rupiah  ditutup menguat 7 poin atau 0,05 persen menjadi Rp14.060 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.067 per dolar AS.

"Rupiah berbalik menguat melawan dolar AS setelah BI kembali menurunkan suku bunga acuannya," kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Sebelumnya, BI kembali menurunkan suku bunga acuan  sesuai dengan ekspektasi pasar. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 September 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen.

"Penurunan suku bunga sudah diumumkan, berarti BI memangkas suku bunga dalam tiga bulan berturut-turut. Inflasi yang bisa terus terjaga memberikan ruang bagi BI untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter," ujar Ibrahim.

Selain itu, memasuki kuartal III-2019, neraca perdagangan mencatat defisit tidak terlalu besar pada Juli, kemudian berbalik surplus di pada Agustus meski tidak terlalu besar juga.

Bisa dikatakan neraca perdagangan lebih stabil di kuartal III-2019, sehingga defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) bisa membaik.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.101 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.060 per dolar AS hingga Rp14.105 per dolar AS.