BREAKINGNEWS.CO.ID – Pemerintah Inggris benar-benar akan meninggalkan Uni Eropa (UE), bukan hanya gertakan semata. Menteri Brexit, Dominic Raab, memberikan peringatan kalau ketersediaan untuk berkompromi dengan Uni Eropa di London bukanlah tanpa sebab. Dengan kurangnya tanggapan Uni Eropa, maka meninggalkan perundingan tanpa kesepakatan sepertinya menjadi langkah yang akan diambil oleh Inggris.

"Pendekatan saya terhadap Brexit adalah pragmatis, bukan dogmatis. Proposal kami akan memberikan perjanjian bersejarah yang menyediakan jalan keluar dari Uni Eropa dan mencapai kesepakatan akhir yang baik untuk seluruh negara," kata Raab dalam pidatonya, Minggu (30/9/2018). "Tetapi, kesediaan kita untuk berkompromi bukan tanpa batas. Kami akan benar-benar meninggalkan Uni Eropa, bukan hanya kata-kata," tuturnya menambahkan.

Pemerintahan dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May sudah menyampaikan kemarahannya terkait hubungannya dengan Uni Eropa. Dirinya marah setelah beberapa pemimpin blok di Uni Eropa melakukan kritik atas proposal Brexit-nya di Austria bulan lalu. Akan tetapi, para menteri juga tertarik untuk menggunakan konferensi tahunan Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris untuk mencoba memenangkan pendukung Brexit.

Pendukung Brexit mengkhawatirkan kalau rencana May untuk meninggalkan Uni Eropa hanya berupa gertakan semata-mata. Dirinya menuturkan bahwa pemerintah akan melawan setiap upaya dalam menjaga Inggris untuk terlalu erat dalam lingkup Uni Eropa atau upaya untuk memecah Inggris dengan memaksa provinsi Irlandia Utara untuk mengambil aturan yang berbeda.

Hanya enam bulan sebelum Inggris akan meninggalkan Uni Eropa dalam pergeseran terbesar kebijakan luar negeri serta perdagangan lebih dari 40 tahun. Adanya perdebatan mengenai bagaimana meninggalkan blok masih diperdebatkan di partai Konservatif bahkan juga di pemerintahan. Dengan tidak adanya kesepakatan mengenai perceraian dan melanjutkan perselisihan hubungan masa depan Inggris dengan Uni Eropa. Raab serta anggota menteri lainnya menuturkan hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan apabila tidak ada kesepakatan brexit.

Partai Buruh oposisi utama menuduh Rabb mengingkari rencana Chequers pada Mei lalu. Mereka menamakannya sesuai kediaman negaranya dimana sebuah perjanjian diputus dengan menteri-menterinya pada Juli lalu. "Proposal Chequers telah ditolak oleh partainya sendiri dan Uni Eropa. Chequers tidak dapat meminta dukungan di konferensi partai konservatif apalagi di parlemen dan di seluruh negeri," kata Paul Blomfield, Juru Bicara Brexit untuk Partai Buruh.

Namun, Raab mengatakan bahwa dirinya mengejar kesepakatan yang memberikan referendum karena menurutnya itu merupakan tugas demokratis. "Jika kita tidak bisa mendapatkan kesepakatan yang mengamankan tujuan itu, maka kita tidak akan memiliki pilihan selain pergi tanpa kesepakatan," kata dia.