BREAKINGNEWS.CO.ID - Mantan Pemain Timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho mengaku sudah tak asing lagi dengan isu pengaturan skor di Indonesia. Pria 42 tahun yang kini bertugas sebagai pelatih SSB Kabomania ini berharap seluruh pemangku kepentingan di sepak bola Indonesia dapat bekerja sama dan terbuka untuk mengahabisi kultur negatif di sepak bola Tanah Air ini. "Saya kadang juga bingung, banyak pertanyaan ke saya tentang pengaturan skor. Tapi ini, sebenarnya sudah lama namun baru muncul ke permukaan pada sekarang. Saya berharap semua pihak bekerja sama. dari PSSI semoga bisa terbuka agar kita semua bisa tahu kedepan arah sepakbola kita mau kemana," kata Indriyanto kepada Breakingnews.co.id.

Isu pengaturan skor di sepakbola nasional kembali mencuat beberapa pekan belakangan ini. Ada sejumlah laga yang diduga diatur oleh mafia dan bandar judi. Dalam acara diskusi di salah satu program televisi nasional, mantan runner pengaturan skor, Bambang Suryo menyebut nama Vigit Waluyo yang dicurigai sebagai orang nomor satu di Indonesia sebagai pengatur skor pertandingan. Bahkan, hal itu diperkuat oleh pengakuan pelatih Timnas Indonesia U-16, Fakhri Husaini, yang mengatakan bahwa seluruh stakeholder di PSSI mengetahui siapa Vigit Waluyo tersebut.

Lantas, Bambang pun menyambung bahwa Vigit merupakan pengelola klub Liga 2, PSMP Mojokerto. Selain Vigit, muncul juga nama anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Hidayat. Dia dituding manajer Madura FC, Januar Herwanto, sebagai pelaku pengaturan skor. Hidayat disebut sebagai oknum pengaturan skor pertandingan PSS Sleman dan Madura FC. PSSI pun langsung menggelar sidang dengan komite disiplin. Hasilnya, Hidayat terbukti memiliki upaya untuk melakukan suap dengan menawarkan sejumlah uang kepada klub Liga 2 Madura FC. Fakta itu terungkap berdasarkan sidang Komite Disiplin PSSI pada Sabtu-Minggu, 1-2 Desember 2018 di Jakarta.

Komite Disiplin melarang Hidayat beraktivitas di dunia sepak bola selama tiga tahun dan wajib membayar denda sebesar Rp150 juta. Selain itu, Hidayat juga tidak diperkenankan memasuki stadion selama dua tahun. Hidayat sendiri merupakan anggota komite eksekutif PSSI periode 2016-2020. Namun, pada Senin (3/12) dia mengundurkan diri dari posisinya dengan alasan ingin menjauhkan diri dari tekanan usai dirinya diduga terlibat pengaturan skor (match fixing).

Nunung, begitu sapaan akrab Indriyanto, lalu bercerita, bahwa ketika dirinya masih aktif sebagai pemain sepak bola, tak jarang dirinya didekati oleh oknum yang berniat melakukan pengauran skor. Akan tetapi, diakui Nunung, hal itu ia tolak mentah-mentah, lantaran prilaku tersebut terlarang dan tak mau membiayai kehidupan keluarga dengan uang yang haram. "Saya tahu, tapi kalau untuk merasakan saya tidak pernah sama sekali. Ya, jangan sampe lah, karena kan tidak enak juga sama keluarga kita apabila kita ketahuan bersalah. Kalau didekati sih pernah cuma sudah lama sekali. Tapi, Alhamdulillah tidak kesampaian. Jadi, intinya kalah menang itu urusan biasa dalam sepak bola," tutur nunung

Lebih lanjut, Nunung, begitu sapaan akrab Indriyanto khawatir bila kasus pengaturan skor yang tidak diberantas hingga ke akar-akarnya akan merusak generasi sepak bola Indonesia. Meskipun, diakaui Nunung, bahwa PSSI saat ini memang memperhatikan pembinaan sepak bola usia muda. Hanya saja, jika kasus pengaturan skor ini tetap terjadi. Sudah dipastikan bahwa sepak bola Indonesia akan stagnan tak ada kemajuan. Karena, pelaku sepak bola-nya saja sudah tidak memiliki sikap fair palay.

"Karena penanganan-pengangan yang sudah baik harusnya bisa membantu pencapaian pemain muda agar menjadikan pemain muda lebih baik lagi. Semuanya sebenarnya sudah jelas sih, PSSI harus terbuka dan semoga kedepannya bisa seperti semula. Lalu, pengaturan skor sudah tidak ada lagi," harap jebolan PSSI Primavera itu.