BREAKINGNEWS.CO.ID – Pasca penguatan yang terjadi pada akhir pekan lalu,  Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya ditutup melemah menyusul aksi ambil untung investor pada Senin (12/10/2018).

IHSG BEI ditutup melemah sebesar 14,99 poin atau 0,24 persen menjadi 6.111,36. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 2,60 poin atau 0,27 persen menjadi 974,98. "Minimnya sentimen positif yang beredar membuat investor cukup berhati-hati mengambil posisi, maka jika ada peluang raih keuntungan itu bakal dijadikan kesempatan sehingga laju IHSG tertahan," ujar Direktur PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee di Jakarta, Senin (10/12/2018).

Di tengah situasi ini, lanjut dia, pergerakan IHSG akan mudah berubah mengikuti perkembangan isu yang beredar, terutama dari eksternal. "Investor cenderung fokus pada sentimen eksternal, terutama mengenai perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina," katanya.

Sementara dari dalam negeri, menurut Hans Kwee, situasinya relatif kondusif, itu tercermin dari data ekonomi yang telah dirilis seperti cadangan devisa indonesia yang meningkat pada November serta inflasi yang stabil. "Pergerakan rupiah yang cenderung melemah memang cukup mempengaruhi investor saham, namun pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal," katanya.

Sementara itu tercatat, frekuensi perdagangan saham pada hari ini (10/12) sebanyak 329.569 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,34 miliar lembar saham senilai Rp8,20 triliun. Sebanyak 138 saham naik, 255 saham menurun, dan 133 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa regional, di antaranya Indeks Nikkei menguat 459,18 poin (2,12 persen) ke 21.219,50, Indeks Hang Seng melemah 311,37 poin (1,19 persen) ke 25.752,38, dan Indeks Strait Times melemah 38,68 poin (1,24 persen) ke posisi 3.072,44.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengimplementasikan sistem I-Suite pada saham emiten yang bermasalah.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan sistem I-Suite akan memberikan tanda kepada setiap saham yang ada di data feed. "Setiap ticker saham nantinya berisi link yang memberikan informasi tentang informasi negatif emiten itu, ada seperti notasi khusus nantinya pada saham emiten bermasalah," ujarnya.

Ia mengemukakan terdapat beberapa kriteria dalam menerapkan I-Suite, yakni emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan. "Akan ada tanda bagi emiten yang belum menyampaikan laporan keuangannya, sehingga saat bertransaksi investor tahu bahwa emiten itu belum menyampaikan laporan keuangan," katanya.