BREAKINGNEWS.CO.ID -  Identitas Indonesia dengan ragam kekayaan luar biasa jangan sampai lepas atau pudar saat memasuki Revolusi Industri 4.0.  Ciri dan identitas keindonesiaan tersebut seperti gotong royong, ramah dan gemar menolong serta cinta budaya bangsa.

“Di luar keterampilan serta pengetahuan sebagai modal utama untuk masuk ke revolusi industry, namun  identitas sebagai bangsa Indonesia itu jangan sampai hilang,”  kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid  usai Diskusi Forum Merdeka Barat dengan tema Membangun Karakter dan Mental Indonesia di Kantor Staf Presiden di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Mantan mahasiswa terbaik UI tahun 90an ini mengibaratkan identitas keindonesiaan sebagai kemudi untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik. "Mau dibawa kemana kita tanpa kemudi, bisa bablas seperti munculnya prostitusi online, penyalahgunaan narkotika daln lainnya," tambah dia.

Upaya yang dilakukan agar identitas keindonesiaan tetap bertahan adalah salah satunya melalui pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.

Pendidikan karakter bisa ditanamkan lewat tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dilakukan sehari-hari dan menjadi kebiasaan, seperti membersihkan sekolah, merapikan sepatu sendiri dan lainnya. Selain itu, kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat juga harus terus dipertahankan.

"Kalau Revolusi Industri 4.0 itu 'gaspol', kearifan lokal jadi remnya. Jadi dia tahu persis bagaimana mengendalikan kendaraan yang lari cepat agar bisa sesuai dengan tujuan kita," katanya.

Kearifan lokal serta identitas kebangsaan itu yang akan menjadi pewarna utama seiring kian derasnya akselerasi revolusi industri memasuki 4.0 dengan basis teknologi digital.

"Di Jepang, tidak ada OB (Office Boy) karena semua pekerjaan bisa dilakukan dan menjadi tanggung jawab masing-masing. Sementara persepsi di Indonesia masih berbeda, segala sesuatu harus dibantu oleh orang lain,"

Pada bagian lain Hilmar menambahkan,  yang bisa dilakukan bangsa Indonesia saat untuk bisa membalikkan keadaan menjadi lebih baik adalah  dengan fokus meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sehingga bisa menjadi syarat dasar Indonesia untuk bisa memimpin di kancah global.

Dengan fokus pada peningkatan SDM tersebut revolusi karakter menjadi jantung dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Untuk itu, harus terus ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat.

"Gerakan revolusi mental merupakan gerakan yang fenomenal. Dalam kehidupan sehari-hari telah banyak terjadi perubahan.Salah satu contohnya yang terjadi di comnuter line (kereta api jabodetabek) di mana saat ini sudah dinilai lebih baik dari sebelumnya," jelas Hilmar.

Hal yang sama, Dirjen Kebudayaan menjelaskan, juga terjadi di pembangunan infrastruktur. "Terkait infrastruktur, jangan hanya dilihat secara fisik. Tapi lihat juga side effect-nya dari sisi kebudayaan," ujarnya.

Turut hadir sebagai narasumber Deputi IV Kemenpora Chandra Bhakti, Deputi Bidang Koordinasi Budaya Kemenko PMK Nyoman Shuida, dan Staf Ahli Mensos Bidang Aksebilitas Mardjuki.