JAKARTA - DPD I Golkar NTT menegaskan akan tetap menghormati hasil rapat pleno DPP Golkar. Meskipun sebagian besar pengurus DPD I Golkar menemui Presiden Jokowi untuk meminta restu Airlangga Hartanto menjadi ketum Golkar selanjutnya, NTT bergeming.

"Saya kemarin sudah (diberitahu terkait pertemuan dengan Jokowi), waktu itu ada yang memberitahu kepada saya, saya bilang sikap saya itu kepada putusan semula (putusan pleno). Jadi kalau teman-teman misalnya punya pilihan lain saya kira saya memahami dan menghormati," kata Ketua DPD I Golkar NTT Melki Laka Lena di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Hasil rapat pleno DPP Golkar memutuskan kalau Setya Novanto masih tetap menjabat sebagai Ketua Umum. Kebetulan, NTT adalah daerah pemilihan Novanto ketika mencalonkan menjadi anggota DPR. Melki mengaku tidak bisa meneken persetujuan untuk musyawarah nasional luar biasa (munaslub). Lagi-lagi, Golkar NTT menghormati hasil rapat pleno.

"DPD I sudah berkumpul untuk menyepakati itu ya saya tentu tidak bisa meneken karena buat saya kira sudah bersepakat ya kami jalani kesepakatan melalui pleno itu yang sudah diputus dengan perdebatan yang sangat panjang," ujarnya. Sebelumnya, pimpinan DPD tingkat I Golkar mengadakan pertemuan di rumah dinas Airlangga Hartarto semalam. Pada saat itu, para ketua DPD I mengajukan surat dukungan untuk dilakukan munaslub.

"Inisiatif munaslub datang dari bersama-sama. DPD I mengusulkan, DPP ya sudah mempunyai kehendak, hanya masalah waktu dan jangka. Tapi adanya surat dari DPD I itu makin mempercepat proses dan makin mendorong. Ya, sudah, sudah (mengajukan surat dukungan munaslub)," kata Ketua Bidang Koordinator Pemenangan Pemilu Golkar Nusron Wahid di rumah dinas Airlangga, Jalan Widya Chandra III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (29/11/2017).

Tentunya ini akan menjadi pertarungan menarik antara faksi-faksi di Partai Golkar antara kubu yang tetap setia dengan rapat pleno atau kubu yang ingin segera menggelar munaslub. Jika kedua kubu beradu, maka diyakini bisa menimbulkan perpecahan lagi di Partai Golkar.