JAKARTA – Pemerintah diminta konsisten membela kepentingan dalam negeri serta berdiplomasi aktif  dalam kaitan upaya lobi pemasaran produk sawit ke pasar global. Hal dianggap penting untuk melawan kampanye  hitam Uni Eropa dan Amerika Serikat sekaligus membuat produk ini dapat diterima pasar dunia.

Untuk itu, langkah dan pendekatan  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang berkunjung ke Vatikan mendapat apresiasi Wakil Ketua Umum Gapki Kacuk Sumarto “Pihak manapun yang bisa mempengaruhi keputusan Uni-Eropa perlu kita lobi, langkah pendekatan perlu dikedepankan daripada perang dagang sebagai pilihan terakhir,” kata Kacuk  di Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Karenanya perlu konsistensi dalam upaya diplomasi serta lobi perdagangan agar produk sawit Indonesia bisa diterima di pasar.  Dia pun menilai saat ini banyak  konflik kepentingan di balik kebijakan mengeluarkan sawit dari minyak nabati bahan bakar biodiesel sebagai energi terbarukan.

Pembatasan sawit seharusnya dilakukan secara adil dengan memperlakukan aturan pembatasan minyak nabati lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, dan rape seed. "Masalah pemasaran sawit ke Uni Eropa harus segera diatasi supaya mempermudah perdagangan internasional," ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga  harus aktif membuka pasar nontradisional sebagai tujuan ekspor sawit. “Asia Selatan sudah mulai tinggal memperbesar volume, Asia Tengah seperti Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kyrgistan, dan Kazakstan belum tergarap, begitu juga  Afrika Tengah,” ujarnya.

Dia juga meminta pemerintah terus  memperkuat dan  mengajak pengusaha memiliki sertifikasi sawit atau ikut tergabung Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Namun begitu, butuh komitmen dari sejumlah elemen pemerintah, baik dari pusat sampai daerah serta perusahaan sawit itu sendiri.

Sebelumnya, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan sempat mengunjungi Vatikan dalam rangkaian perjalanan ke Eropa pada Rabu (25/4). Luhut ketika itu bertemu dengan Direktur Lembaga Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian di kota Vatikan Kardinal Peter Turkson.