DENPASAR - Film dokumenter berjudul "1880 MDPL" karya sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh) keluar sebagai film terbaik "Denpasar Film Festival (DFF)" 2017.

Film Dokumenter 1880 MDPL ini mengisahkan kehidupan petani kopi di sebuah dataran tinggi Aceh, yakni Desa Merah Jernang, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah. Desa ini termasuk daerah transmigrasi yang dibuka tahun 1997.

Merah Jerang 1997 ( 1880 MDPL ) dan kopinya yang nikmat.

 

Kepala Bidang Pemberitaan Humas dan Protokol Pemkot Denpasar Wayan Hendaryana mengatakan kegiatan DFF 2017 merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Denpasar.

"Kegiatan tersebut bekerja sama dengan insan kreatif pengiat film di Kota Denpasar. Dan ajang ini sudah memasuki ke delapan kali," kata Wayan Hendaryana di Denpasa, Bali, Selasa (12/9/2017).

Ia mengatakan penyerahan penghargaan kepada jawara film dokumenter "1880 MDPL" oleh Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara di Istana Taman Jepun Denpasar pada Minggu (10/9), didampingi Ketua Dewan Juri Slamet Rahardjo Djarot.

Wakil Wali Kota Denpasar Jaya Negara mengatakan film sebagai 16 sektor ekonomi kreatif yang pencapaiannya semakin positif karena banyak film Indonesia meraih lebih dari satu juta penonton.

Kenyataan ini, film menjadi primadona ekonomi kreatif Indonesia dalam menggerakan roda perekonomian warga masyarakat. Di masa depan subsektor film menjadi sektor penting dalam kuliner, perancang busana (fashion) dan kerajinan.

Ia mengatakan pemerintah pusat juga menempatkan film sebagai subsektor penting dalam pengembangan ekonomi kreatif yang tak terlepas dari empat pilar yang harus bergerak, yakni akademika, dunia usaha, komunitas dan pemerintah.

Jaya Negara mengatakan penyelenggaraan DFF berawal datang dari komunitas pecinta film, kemudian mendapatkan dukungan, baik dari pemerintah dan kalangan dunia usaha yang melibatkan intelektual dan akademisi guna mendapatkan masukan ilmiah.

Geliat ekonomi kreatif adalah tumbuh dan berkembangnya kreativitas ekonomi kreatif. Hal ini tak mungkin dilakukan pemerintah sendiri, sehingga Pemkot Denpasar terus mendorong dan berupaya mendampingi dan tumbuh kuat menjadi tonggak ekonomi kreatif di Denpaaar.

Semoga langkah, kata dia, akan menjadi langkah awal dalam mengembangkan subsektor itu di Kota Denpasar dan dapat turut mensejahterakan masyarakat Denpasar.

Masyarakat petani kopi setempat sudah berupaya keras memanfaatkan lahan yang ada untuk bertanam kopi, namun hasilnya tidak pernah memuaskan karena tanah di ketinggian 1.880 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu tidak begitu subur.

Karya film Siswa SMA 15 Takengon.

 

Karena itu mereka harus mencari sampingan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, bahkan terpaksa membuka lahan baru di hutan.

"Film ini merupakan potret jernih tentang situasi kehidupan masyarakat, di mana setiap pesan disampaikan melalui rangkaian gambar yang rapi dan efektif," ucapnya.

Selain film berjudul "1880 MDPL", dewan juri memberi apresiasi cukup tinggi untuk film "Anak Koin" (Chrisila Wentiasri, Bandar Lampung) dan menganugerahkan penghargaan khusus.

Film "Anak Koin" menarik perhatian juri karena kemampuannya menuturkan kisah tentang anak jalanan secara cukup dekat dan apa adanya. Dari film itu tergambar bukan hanya sisi buruk si tokoh, melainkan sisi baiknya pula.

Film unggulan lainnya, "Perahu Sandeq" (Gunawan Hadi Sucipto, Yogyakarta). Di samping itu dewan juri menetapkan tiga film terbaik juara pertama berjudul "Urut Sewu" (Dewi Nur Aeni, Karangayar, Kebumen, Jawa Tengah) juara dua "ROB" (Fatimatuz Zahra, Pekalongan, Jawa Tengah), dan juara tiga berjudul "Penambang Pasir Citanduy" (Dwi Novita Sari, Majelangka).

DENPASAR - Film dokumenter berjudul "1880 MDPL" karya sutradara Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh (Aceh) keluar sebagai film terbaik "Denpasar Film Festival (DFF)" 2017.

Kepala Bidang Pemberitaan Humas dan Protokol Pemkot Denpasar Wayan Hendaryana mengatakan kegiatan DFF 2017 merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Denpasar.

"Kegiatan tersebut bekerja sama dengan insan kreatif pengiat film di Kota Denpasar. Dan ajang ini sudah memasuki ke delapan kali," kata Wayan Hendaryana di Denpasa, Bali, Selasa (12/9).

Ia mengatakan penyerahan penghargaan kepada jawara film dokumenter "1880 MDPL" oleh Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara di Istana Taman Jepun Denpasar pada Minggu (10/9), didampingi Ketua Dewan Juri Slamet Rahardjo Djarot.

Wakil Wali Kota Denpasar Jaya Negara mengatakan film sebagai 16 sektor ekonomi kreatif yang pencapaiannya semakin positif karena banyak film Indonesia meraih lebih dari satu juta penonton.

Kenyataan ini, film menjadi primadona ekonomi kreatif Indonesia dalam menggerakan roda perekonomian warga masyarakat. Di masa depan subsektor film menjadi sektor penting dalam kuliner, perancang busana (fashion) dan kerajinan.

Ia mengatakan pemerintah pusat juga menempatkan film sebagai subsektor penting dalam pengembangan ekonomi kreatif yang tak terlepas dari empat pilar yang harus bergerak, yakni akademika, dunia usaha, komunitas dan pemerintah.

Jaya Negara mengatakan penyelenggaraan DFF berawal datang dari komunitas pecinta film, kemudian mendapatkan dukungan, baik dari pemerintah dan kalangan dunia usaha yang melibatkan intelektual dan akademisi guna mendapatkan masukan ilmiah.

Geliat ekonomi kreatif adalah tumbuh dan berkembangnya kreativitas ekonomi kreatif. Hal ini tak mungkin dilakukan pemerintah sendiri, sehingga Pemkot Denpasar terus mendorong dan berupaya mendampingi dan tumbuh kuat menjadi tonggak ekonomi kreatif di Denpaaar.

Semoga langkah, kata dia, akan menjadi langkah awal dalam mengembangkan subsektor itu di Kota Denpasar dan dapat turut mensejahterakan masyarakat Denpasar.

Sementara itu, Slamet Rahardjo Djarot, film berjudul "1880 MDPL" mampu menyisihkan empat unggulan lainnya berkisah tentang kehidupan petani kopi di sebuah dataran tinggi Aceh, yakni di Desa Merah Jernang, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah. Desa ini juga termasuk daerah transmigrasi yang dibuka tahun 1997.

Masyarakat petani kopi setempat sudah berupaya keras memanfaatkan lahan yang ada untuk bertanam kopi, namun hasilnya tidak pernah memuaskan karena tanah di ketinggian 1.880 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu tidak begitu subur.

Karena itu mereka harus mencari sampingan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, bahkan terpaksa membuka lahan baru di hutan.

"Film ini merupakan potret jernih tentang situasi kehidupan masyarakat, di mana setiap pesan disampaikan melalui rangkaian gambar yang rapi dan efektif," ucapnya.

Selain film berjudul "1880 MDPL", dewan juri memberi apresiasi cukup tinggi untuk film "Anak Koin" (Chrisila Wentiasri, Bandar Lampung) dan menganugerahkan penghargaan khusus.

Film "Anak Koin" menarik perhatian juri karena kemampuannya menuturkan kisah tentang anak jalanan secara cukup dekat dan apa adanya. Dari film itu tergambar bukan hanya sisi buruk si tokoh, melainkan sisi baiknya pula.

Film unggulan lainnya, "Perahu Sandeq" (Gunawan Hadi Sucipto, Yogyakarta). Di samping itu dewan juri menetapkan tiga film terbaik juara pertama berjudul "Urut Sewu" (Dewi Nur Aeni, Karangayar, Kebumen, Jawa Tengah) juara dua "ROB" (Fatimatuz Zahra, Pekalongan, Jawa Tengah), dan juara tiga berjudul "Penambang Pasir Citanduy" (Dwi Novita Sari, Majelangka).

BREAKINGNEWS.CO.ID