BREAKINGNEWS.CO.ID - Ribuan warga Venezuela melakukan aksi unjuk rasa untuk mendesak militer guna memberi dukungan kepada pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang sudah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim (sementara) dan menolak Nicolas Maduro.

Di ruas-ruas jalan Caracas dan sejumlah kota lainnya di Venezuela pada Rabu (30/1/2019), para demonstran memukul pot-pot dan meniup peluit sambil mengacungkan poster bertuliskan, "Pasukan bersenjata, kembalikan martabat kalian!" Sejumlah pengunjuk rasa lainnya berteriak, "Maduro, perampas kuasa! Guaido, presiden! Katakan tidak pada kediktatoran!"

Mendukung demonstrasi tersebut, Guaido mengirimkan pesan kepada militer, "Jangan tembak orang yang mengajukan tuntutan, termasuk demi keluarga kalian." Guaido mengambil alih kekuasaan secara sepihak demi membentuk pemerintahan transisi pada pekan lalu, ketika gelombang demonstrasi anti-Maduro semakin tinggi di Venezuela.

Ia pun langsung mendapatkan dukungan dari negara Barat dan Amerika Latin, seperti Amerika Serikat (AS) Kanada, Chile, Meksiko, bahkan sampai Australia. Sementara itu, enam negara besar Eropa mendesak Maduro untuk menggelar pemilihan umum dengan batas waktu hingga akhir pekan ini. Apabila tidak dilakukan, mereka juga akan mengakui Guaido sebagai pemimpin Venezuela.

Sebagian besar pendukung Guaido ini menganggap Maduro tidak pantas memimpin dikarenakan mendapatkan kursi presiden melalui proses pemilu yang tidak resmi. Mereka menganggap Majelis Nasional pimpinan Guaido merupakan satu-satunya institusi negara yang dipilih rakyat. Popularitas Maduro menurun karena dianggap membawa perekonomian Venezuela terus terpuruk hingga mengalami hiperinflasi.

Di tengah krisis ini, warga Venezuela menggelar demonstrasi besar-besaran yang selalu berakhir dengan kerusuhan, hingga menewaskan lebih dari 40 orang. Setelah Guaido mengambil alih kuasa, militer menyatakan tetap memberi dukungan kepada Maduro, meskipun sejumlah pejabat menyatakan membelot dari sang presiden, termasuk atase pertahanan Venezuela di AS. Warga pun kembali turun ke jalan untuk "menuntut agar angkatan bersenjata berpihak kepada rakyat."