Jakarta--Dari pertemuan-pertemuan tersebut terbuka berbagai peluang yang bisa dikerjasamakan dengan 16 negara di kawasan ini diluar Australia dan Selandia Baru.

"Peluang ini perlu kita tindak lanjuti untuk dua alasan. Pertama, perluasan pasar bagi beberapa produk Indonesia. Ini dikaitkan dengan keinginan kita untuk masuk di pasar-pasar non tradisional.  Kedua, dalam rangka keterlibatan kita di Pasifik yang selama ini kurang kita garap secara serius," jelas Tantowi dalam pesan singkatnya dari Wellington, Selandia Baru, Sabtu (9/9/2017).

Sebagai sesama bangsa dari rumpun Melanesia dan Polynesia, Tantowi beranggapan, Indonesia dan negara-negara di Pasifik mempunyai banyak kesamaan.

"Kita mengkonsumsi makanan yang sama seperti beras, singkong, talas, ubi, sukun, kelapa dsb. Karena kesamaan tersebut, negara-negara ini membutuhkan bantuan kita dalam hal pengolahan bahan-bahan tersebut menjadi berbagai macam produk seperti di negara kita," ujar Tantowi.

"Dalam waktu dekat bekerjasama dengan UNDP kita akan mendatangkan beberapa ahli masak dan ahli gizi dari Indonesia untuk berbagi pengetahuan tentang pembuatan aneka makanan dari bahan-bahan yang ada yang kaya gizi dan higienis" jelas Tantowi.

Secara kultural, Tantowi juga menyatakan, rakyat Indonesia mempunyai kedekatan dengan masyarakat di Pasifik. Fakta ini harus mampu dikapitalisasi dalam rangka mendekatkan diri ke mereka yang selama ini seperti jauh di mata jauh pula di hati.

Menurut Tantowi, kondisi seperti itu harus diubah menjadi dekat di mata dan dekat di hati. Ini bisa dilakukan melalui beragam kerjasama, khususnya perdagangan dan budaya. Dalam konteks perdagangan, Samoa bisa dijadikan sebagai pintu masuk sekaligus hubungan distribusi berbagai produk Indonesia di Pasifik dari mulai bumbu, tekstil, furniture sampai dengan otomotif.

"Ada dua alasan kuat mengapa Samoa patut kita jadikan hubungan. Pertama, sebelum 2022 Samoa akan terkoneksi secara digital dengan 18 negara di Pasifik. Sebelum 2020, Apia akan menjadi hub transportasi udara ke kawasan Pasifik. Kedua, saling pengertian yang sudah tercipta dan terbina selama ini," jelas Tantowi yang sudah berkunjung tiga kali ke Apia dalam lima bulan ini.

Dari hasil pembicaraan lebih lanjut Tantowi dengan beberapa menteri Samoa selama berada di Apia, dapat disimpulkan Samoa bersedia menjadi pintu masuk dan hubungan perdagangan langsung Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Saat ini mereka sangat membutuhkan para ahli teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari Indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang penggunaan TIK sebagai basis perdagangan, pemerintahan dan demokrasi.

Sebagai negara yang hidup dari pariwisata, pertanian dan perikanan yang rentan terhadap perubahan iklim, menurut dia, Samoa dan negara-negara di Pasifik  sangat membutuhkan bantuan Indonesia dalam bidang eco tourism, pertanian, perikanan dan perubahan iklim termasuk didalamnya penanganan sampah plastik di laut.(MKS)