BREAKINGNEWS.CO.ID - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan akhirnya menjatuhkan hukuman mati terhadap terduga pelaku terorisme Aman Abdurrahman. Majelis hakim menilai jika Aman terbukti menggerakkan teror bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 13 November 2016. SElain itu juga bom Thamrin pada Januari 2016, bom Kampung Melayu pada 24 Mei 2017 dan penusukan polisi di Sumut tanggal 25 Juni 2017. Terakhir adalah penembakan polisi di Bima pada 11 September 2017.

"Menyatakan (terdakwa) bersalah dan terbukti menggerakkan aksi teror bom. Dengan itu, kami majelis hakim PN Jaksel memvonis Aman Abdurrahman dengan hukuman mati," kata majelis hakim PN Jaksel, Jum'at (22/6/2018).

Usai mendengarkan putusan tersebut, terdakwa terorisme Aman yang merupakan pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) itu pun langsung digiring keluar ruang sidang oleh aparat keamanan. Bahkan sebelumnya, Aman sendiri sempat menyatakan pikir-pikir untuk menyatakan banding atau tidak. "Saudara hanya memiliki waktu tujuh hari untuk berpikir, apakah saudara akan mengajukan banding atau tidak," tegas majelis hakim.

Kuasa hukum Aman Abdurrahman, Asrudin Hatjani. (Foto: Echo/breakingnews.co.id)

Sementara itu, pengacara Aman alias Oman Sulaiman terduga teroris itu yakni Asrudin Hatjani mengatakan jika dirinya sepakat dengan kliennya tersebut untuk pikir-pikir apakah akan melakukan banding atau tidak. Ia juga mengatakan jika Aman tidak melakukan banding, maka dirinya sebagai kuasa hukum pun tidak akan melakukan banding atas putusan hakim tersebut. "Seperti apa yang dibilang oleh Aman di persidangan tadi, dirinya akan berfikir-fikir dulu soal banding. Tapi nanti saya konsultasi dulu dengan Beliau (Aman Abdurrahman) untuk membahas hal tersebut," ujar Asrudin saat ditemui usai jalani sidang vonis Aman di PN Jaksel.

Dirinya membantah jika ingin melakukan banding secara tersendiri. Ia pun menegaskan jika dirinya tidak akan mungkin melakukan hal tersebut tanpa persetujuan Aman selaku kliennya. "Kalau saya tidak bisa bertindak jika tidak ada persetujuan dari Aman. Jadi, kalau dia menyatakan banding, saya banding, jika tidak, maka saya juga tidak akan melakukan banding," tuturnya. "Tapi nanti saya ketemu dulu dengan Beliau. Untuk soal kapan bertemunya, ya kita liat nantilah," pungkasnya.