BREAKINGNEWS.CO.ID - Kasus dugaan penganiayaan terhadap pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bernama Muhammad Gilang Wicaksono terus bergulir. Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap dokter Rumah Sakit MMC Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan yang disebut-sebut melakukan operasi terhadap Gilang Wicaksono. 

Gilang diduga dianiaya pihak Pemerintah Provinsi Papua yang pada Sabtu 2 Februari 2019 lalu menggelar rapat di Hotel Borobudur, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menyebutkan dokter yang telah diperiksa itu bernama Kusmarwati. Pemeriksaan Kusmarwati dilakukan untuk mencari tahu pasti penyebab luka sobek di wajah dan retak pada bagian hidung gilang disebabkan karena apa.

"Rekam medisnya kita ingin tahu guna kepentingan penyidikan," kata Argo saat dikonfirmasi, Kamis (14/2/2019).

Meski begitu Argo belum bisa membeberkan. hasil pemeriksaan tersebut dengan alasan masih ditelaah penyidik.

Argo mengatakan Kusmarwati diperiksa di RS MMC pada Selasa 12 Februari 2019 lalu. Hal itu atas permintaanyanya. "Kita terus dalami dugaan penganiayaan dan juga intimidasi yang terjadi pada Sabtu 2 Februari 2019 lalu. Nanti tunggu saja hasilnya akan kami kabarkan," ujarnya.

Gilang adalah orang yang diduga dianiaya, saat sedang mengambil foto aktivitas rapat antara Pemprov Papua dengan Anggota DPRD Papua, di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu malam, 2 Februari 2019.

Sejumlah orang dari Pemprov Papua datang menghampiri Gilang, karena tidak terima difoto. Mereka sempat menanyakan identitas Gilang. Meski sudah mengetahui Gilang pegawai KPK, namun mereka tetap 'menghujani' bogem mentah.

Akibatnya, wajah Gilang mengalami luka memar dan sobek. Korban lantas melapor ke Polda Metro Jaya, Minggu 3 Februari 2019.

Searah kasus itu, pihak Pemprov Papua melaporkan balik pegawai KPK itu atas tuduhan pencemaran nama baik. Sebab, di dalam HP pegawai KPK yang sempat diperiksa pihak pemprov, terdapat pesan jika salah satu pejabat ada yang akan melakukan tindak suap.

"Isi pesan WhatsApp terlapor sempat dibaca. Ada kata-kata yang berisi akan ada penyuapan yang dilakukan Pemprov Papua. Faktanya tidak ada penyuapan," kata Argo.

Terkait kasus itu, pihak Pemprov Papua melalui Alexander Kapisa melaporkan kejadian ini, atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik, Senin 4 Februari 2019. Dia melapor ke Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/716/II/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus.

Pasal yang dijerat yakni Tindak Pidana di bidang ITE dan pencemaran nama baik atau fitnah melalui media elektronik Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 Ayat (3) dan Pasal 35 Jo Pasal 51 Ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE.