JAKARTA --Kementerian Komunikasi dan Informatika secara resmi mulai mengoperasi secara penuh mesin sensor pemburu segala konten negatif yang tersebar di internet pada Rabu (3/1/2017). Dengan mesin ini, Menkominfo bisa melakukan penyensoran dalam skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Sebelumnya, penyensoran dilakukan manual dengan tenaga manusia dan laporan masyarakat. 

Pengadaan mesin ini telah dilakukan sejak Agustus lalu dengan menelan biaya hingga Rp.194 milar. Dana sebesar itu tidak hanya digunakan untuk membeli teknologi. Tapi juga digunakan untuk membiayai tim yang akan mengoperasikan mesin  ini. Tim yang mengelola mesin sensor ini akan beranggotakan sekitar 50 orang. Tahun depan Kominfo menganggarkan Rp.72 miliar untuk operasional mesin. Tim siber yang menangani operasional mesin dinamakan tim Cyber Drone 9.

Teguh Arifiyadi, Kepala Sub Direktorat Penyidikan Kemenkominfo menjelaskan, mesin crawling yang mereka pakai bisa menciduk jutaan situs dan konten media sosial hanya lewat satu kata kunci. Kecepatan pengumpulan datanya pun terbilang sangat cepat. "Mesin ini mempercepat waktu, meningkatkan volume, dan penindakan oleh penegak hukum," kata Teguh di lantai 8 Kemenkominfo akhir pekan lalu

Cyber drone akan membantu memberikan informasi tentang ribuan bahkan puluhan ribu situs dan akun penyebar konten negatif seperti pornografi & pornografi anak, perjudian online, penipuan online, dan konten negatif lainnya dalam waktu yang relatif cepat. Hasil kerja cyber drone akan di verifikasi ulang para agen secara hati-hati, sebelum akhirnya diputuskan bahwa situs atau akun harus di eksekusi mati di Indonesia.