BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, menuturkan pemerintah Cina meminta kepada Amerika Serikat (AS) agar tidak menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Rusia, atau Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces/ INF). Serta menyarankan agar AS menyelesaikan perbedaan dengan Rusia melalui dialog daripada menarik diri dari perjanjian gencatan senjata tersebut.

"Cina menentang AS yang menarik diri (dari perjanjian) dan mendorong AS serta Rusia untuk menyelesaikan perbedaan antar keduanya dengan dialog yang tepat dan membangun," jelas pernyataan Menlu Cina itu sambil memperingatkan bahwa penarikan diri ini bisa memicu dampak negatif, seperti dikutip AFP, Sabtu (2/2). Wang Yi menyebutkan dirinya tidak berniat membantu penyusunan perjanjian pengendalian senjata untuk menggantikan perjanjian INF. Menurutnya, isu tersebut terlalu pelik dan perjanjian yang sudah ada harus tetap dipertahankan serta diimplementasikan.

Sebelumnya pada Jumat (1/2) lalu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menyatakan negaranya akan menarik diri dari perjanjian nuklir jarak menengah (INF) yang dibuat pada 1987 silam dalam enam bulan mendatang. Ancaman ini muncul dikarenakan menganggap Rusia sudah melanggar perjanjian itu. Washington mengklaim misil Rusia Novator 9M729 telah melukai perjanjian tersebut. Sebab, misil yang diluncurkan di darat ini punya jarak tempuh antara 500 hingga 5.500 kilometer.

"INF adalah perjanjian bilateral penting untuk mengendalikan dan pelucutan senjata dan memulihkan hubungan antara dua kekuatan besar, memperkuat perdamaian internasional dan regional, dan menjaga keseimbangan dan stabilitas strategis global," demikian pernyataan Kemenlu Cina yang dipublikasikan dalam situs resminya. Perjanjian ini sebenarnya akan berakhir di awal 2021. Akan tetapi perjanjian ini bisa diperpanjang hingga lima tahun ke depan apabila disepakati antara AS dan Rusia. Namun, para pejabat Moskow menuduh Washington-lah yang sengaja menciptakan alasan untuk mengakhiri perjanjian sehingga memungkinkan AS mengembangkan senjata baru.