BREAKINGNEWS.CO.ID -Polisi menciduk sebelas pejabat Pemerintahan Kabupaten Bekasi terkait praktek penipuan sekelompok orang yang mengaku memiliki tanah yang dilakukan secara tersistematis dengan cara memalsukan Akta Jual Beli (AJB) milik Lilis Suryani. Salah seorang diantaranya adalah Camat Camat Tarumajaya, berinisial HS.

Modus penipuan kasus tanah berjamaah ini dilakukan dengan berpura-pura sebagai pembeli dan penjual lahan. "Camat selaku pejabat pembuar akte tanah dan tersangka lainnya ikut menandatangani proses yang seolah-olah jual beli tersebut," ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indradi kepada Breakingnews.co.id, Rabu (5/9/2018). 

Camat HS bersama Kepala Desa Segara Makmur berinisial HA dan perangkat desa lainnya secara berjamaah membuat girik palsu yang dibuat dan ditandatangani lengkap dengan keterangan waris palsu. Ke 11 tersangka kasus ini adalah Herman Sujito (mantan Camat), Agus Sopyan (mantan Sekdes), H Amran (Mantan Kepala Desa), Syafii (staf desa), Suhermansyah (staf Kecamatan), HH (mantan Kepala Dusun, dan M Barif (staf pemerintahan). Tersangka lainnya adalah empat warga; M. Dagul, Jaba Suyatna, Melly Siti Fatimah dan Agus Asep. 

Ade mengatakan para tersangka dalam kasus ini telah dicopot dari posisinya. "Kami tetapkan sebagai tersangka kemudian orang yang berperan serta aktif menjadi figur seolah-olah penjual dan pemilik tanah. Penjual adalah seolah-olah pemilik kemudian pembeli juga ada. Jadi total 11,” kata Ade.
Modusnya adalah, mereka mengaku sebagai pemilik tanah korban atas nama Lina. Mereka membawa warkah yang lengkap dicap dan ditandatangani oleh pihak kecamatan hingga kepala desa. 

“Modus yang mereka lakukan adalah ketika seorang korban ini punya tanah, saudara L ini. Ibu L punya tanah sejak 73 kemudian di tahun 2014, dia mendapat informasi dan juga di lapangan, dia didatangi oleh sekelompok orang yang mengaku memiliki tanah dengan warkah yang lengkap. Jadi para tersangka ini membuat girik palsu yang dibuat ditandatangani lengkap oleh kepala dusun hingga camat kemudian keterangan waris palsu kemudian keterangan tidak sengketa, surat kematian palsu sehingga ketika warkah ini sudah lengkap," ujar dia menjelaskan.

Tapi, Lina tak tinggal diam. Dia menunjukkan kalau dia adalah pemilik yang sah dengan menunjukkan sertifikat asli dan menguasai secara fisik tanah seluas 7.700 meter persegi dengan nilai sebesar Rp23 milyar itu. Tapi, tak tinggal diam, para pelaku lantas membuat akta jual-beli secara lengkap dan menganggap dokumen yang dimiliki Lina adalah yang palsu.

“Modus para tersangka ini membuat dokumen-dokumen palsu tadi secara lengkap, bekerja sama dengan dari oknum tingkat dusun sampai kecamatan kemudian mendatangi korban menyatakan seolah-olah mengajak korban untuk bersengketa. Akhirnya korban melaporkan kepada kami dan kami berhasil ungkap dan kami tetapkan ada beberapa diantaranya kita tahan,” ucapnya.
Kemudian, pada saat sengketa, lanjutnya, para oknum pejabat kecamatan tersebut juga membuat catatan dokumen jual-beli tanah di sebuah buku yang telah ditandatangani oleh pelaku HS selaku Camat Tarumajaya.
“Dokumen-dokumen ini tercatat di buku yang resmi. Di kantor Kecamatan, setiap tahun. Bapak Camat itu menutup administrasi buku ini di halaman terakhir yang tersisa. Mereka membuat 163 akta jual-beli. Artinya masih ada 163 akta jual-beli lainnya yang masih kita kejar,” ujar Ade.

Maka dari itu, lanjut dia, pihaknya akan terus mengembangkan kasus mafia tanah tersebut lantaran masih ada 163 akta tanah yang diduga jadi korban para oknum pejabat setempat. Atas perbuatannya para pelaku dijerat 263 KUHP tentang pemalsuan surat kemudian Pasal 264 KUHP tentang pemalsuan akta otentik dan Pasal 266 KUHP menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik dengan ancaman maksimal enam tahun.