SLEMAN - Erupsi Gunung Merapi menimbulkan kerugian bagi maskapai penerbangan baik ke Yogyakarta maupun ke daerah lainnya melalui Bandara Adisutjipto. Bagaimana tidak, pasaca erupsi, bandara tersebut beberapa kali mengalami buka tutup. Hal itu ditenggarai akibat adanya abu vulkanik di sekitar lokasi bandara. "Update informasi kembali dari airnav, aerodrome Bandara Adisutjipto already open 14.17 local time," ujar Communication and Legal Section Head PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta Liza Anindya, Jumat (11/5/2018).

Namun, sebelumnya bandara ini juga sempat ditutup pada pukul 10.42 WIB hingga pukul 11.10 WIB. Tak berselang lama, bandarakembali ditutup berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) B3567/2018. "Aerodrome Bandara Adisutjipto, Yogyakarta kembali ditutup hingga pukul 16.30 WIB sesuai NOTAM B3567/2018," kata Manager Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait.

Seperti diberitakan sebelumnya, Liza menjelaskan jika penerbangan untuk sementara waktu ditutup karena sesuai prosedur apabila ada abu vulkanik. Aktifitas penerbangan pun tak bisa berjalan. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memastikan keselamatan penumpang. Sementara untuk abu vulkanik yang ada di Bandara Adisutjipto sebenarnya tidak terlalu tebal. Namun, pihak manajemen tetap menutup sementara bandara, sampai bandara betul-betul aman untuk penerbangan.

Gunung Merapi meletus freatik pada pukul 07: 32 WIB. Gunung tersebut meletus disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat. Tinggi kolom dari letusan gunung mencapai ketinggian 5.500 meter dari puncak kawah. Letusan tersebut juga mengeluarkan abu vulkanik, pasir dan material piroklatik. Letusan berlangsung tiba-tiba. Jenis letusan adalah letusan freatik yang terjadi akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi. Jenis letusan ini tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja pada gunung api aktif. Biasanya letusan hanya berlangsung sesaat. Gunung Merapi sebelumnya juga pernah terjadi letusan freatik.