MATARAM - Kecepatan angin di wilayah Nusa Teggara Barat (NTB) meningkat. Potensi tersebut mencapai 50 kilometer per jam dan diperkirakan akan melanda wilayah tesebut hingga Rabu (31/1/2018) mendatang. Adanya peningkatan terhadap kecepatan angin tersebut dapat menimbulkan pohon tumbang serta tingginya gelombang yang mencapai dua meter di Selat Lombok dan perairan Selat di NTB.

Untuk itu, Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram I Made Gede Yasa mengimbau agar masyarakat waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang ditimbulkan oleh angin kencang tersebut. "Kita tidak mau lagi ada korban meninggal dunia akibat pohon tumbang yang terjadi di Jalan Udayana, yang menimpa Irnawati (11) dari Lingkungan Karang Kelok," katanya, Senin (29/1/2018).

Selain itu, Yasa juga mengatakan untuk mengetahui perubahan kondisi cuaca, pihaknya terus menjalin komunikasi dan berkoordinasi dengan BMKG Bandara Internasional Lombok (BIL) agar dapat melakukan antisipasi sedini mungkin. Sebagai bentuk dari antisipasi tersebut, ia mengatakan pihaknya telah menyiagakan petugas tim reaksi cepat (TRC) untuk melakukan patroli ke sejumlah titik rawan bencana.

Sementara, untuk mengantisipasi adanya pohon tumbang akibat perubahan kecepatan angin tersebut, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). "Untuk antisipasi pohon tumbang, kami berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), agar dapat segera dilakukan pemotongan sehingga tidak menghalangi aktivitas masyarakat di sekitarnya, dan perantingan untuk pohon yang diprediksi akan tumbang," katanya.

Untuk pengawasan di sepanjang sembilan kilometer pantai Mataram, tim TRC akan disiagakan selama 24 jam penuh. Tim tersebut akan berjaga di posko-posko yang telah disediakan secara bergantian.

Dirinya juga mengatakan, setiap hari anggota TRC yang siaga di pinggir pantai sebanyak 16 orang dari 50 anggota TRC yang ada. Selain itu mereka juga akan bekerja sama dengan petugas satuan siaga bencana (Tagana) dari Dinas Sosial. Adapun setiap anggota TRC itu akan dilengkapi dengan sistem komunikasi dan armada untuk berkeliling memantau cuaca dan suasanan di sepanjang pantai, termasuk perubahan gelombang laut. "Hal itu sebagai salah satu upaya antisipasi, agar nelayan dapat segera diinformasikan untuk waspada dan tidak melaut untuk sementara," katanya.