BREAKINGNEWS.CO.ID - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta kesulitan mengungkap  bandar narkoba di Diskotek Old City, Jakarta Barat. Kesulitan BNNP DKI karena
52 orang pengunjung yang terjaring razia dan diperiksa, berbeda-beda memberikan pandangan ciri-ciri terkait sosok pengedar narkoba dilokasi tempat hiburan malam tersebut. 

"Kita belum menemukan satu kepastian, jadi kesulitan (proses penyelidikan). Ada yang bilang bandarnya gendut, tapi ada juga yang bilang kurus, ada yang kecil dan yang sedang. Jadi banyak versi," ujar Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DKI Jakarta, AKBP Maria Solrury saat dikonfirmasi, Senin (22/10/2018).

Sebelumnya, jajaran BNNP DKI Jakarta melakukan sidak ke Diskotek Old City yang berlokasi di Taman Sari, Jakarta Barat pada Minggu (21/10/2018). Razia yang digelar pukul 01.00 hingga 04.00 WIB ini berhasil menjaring 52 pengunjung yang terdiri dari 19 perempuan dan 33 laki-laki. 

Terpisah, pemerhati tempat hiburan malam, Tete Marthadilaga kepada breakingnews.co.id mengapresiasi kinerja Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta terhadap razia narkoba di tempat hiburan malam Diskotik Old City di Jalan kali Besar Selatan, Tambora Jakarta Barat, Minggu (21/10/2028) dinihari. "Razia tersebut cukup efektif dan sesuai prosedur (SOP) dan tentunya harus lebih profesional," ujar Tete.

Terkait adanya desakan untuk menutup Diskotik OC, Tete Marthadilaga meminta Pemprov DKI harus bertindak ekstra hati-hati dan jangan ada kesan main segel atau asal cabut izin usaha pariwisata. "Disamping akan berdampak bertambahnya pengangguran, Pemda DKI selama ini belum mampu memberikan solusi bagi karyawan tempat hiburan malam yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun yang di rumahkan," paparnya.

Namun demikian, lanjut Tete, apabila tempat hiburan yang bersangkutan terbukti mengedarkan narkoba, tidak bisa ditolelir lagi. "Tetapi apabila baru sebatas indikasi maka pemerintah DKI, dalam hal ini Gubernur, jangan sampai berkuping tipis hingga pada akhirnya merugikan pengusaha hiburan dan “mematikan” karyawan," ucapnya.

Adanya desakan penutupan itu kemungkinan besar masyarakat belum tahu apabila pengelola Old City adalah manajemen baru. Jadi, tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahan dengan manajemen sebelumnya.  Sebab, ketika dilakukan razia, kebetulan malam itu Old City baru grand opening. Lagi pula yang terbukti positif salahguna narkoba (sesuai hasil test urine) semuanya pengunjung dan tidak melibatkan karyawan.

“Secara pribadi saya sangat mendukung pemberantasan penyalagunaan narkoba. Bukan saja di tempat hiburan malam jenis diskotik, tetapi perlu pengawasan ketat di tempat karaoke, hotel, rumah kost, apartemen dan bahkan di perumahan,” tandas Tete yang sempat menjadi Humas Diskotik Excotic ini.

Tete menyebut peredaran dan penyalahgunaa narkoba di tanah air, khususnya di Ibu Kota Jakarta sudah mencapai titik nadir.  Mengkomsumsi pil setan dan kristal putih ini tentu akan merusak generasi bangsa. Untuk itu, seyogyanya dicarikan cara yang tepat dan efektif guna mencegah peredaran dan salahguna narkoba di tempat hiburan.

“Misalkan kalau memungkinkan, bisa saja digunakan alat deteksi atau petugas BNN dan Satuan Narkoba Polda ditempatkan disitu. Nah, bila perlu anjing pelacak di tempat di sekitar pintu masuk sesuai kebutuhan,” tutur Tete.

Pasalnya, Tete melihat tempat hiburan malam belakangan ibarat hidup segan mati tak mau alias mati suri akan berdampak luas khususnya masalah sosial dan PAD Pemprov DKI Jakarta. "Masyrakat sekarang ini semakin cerdas, terlebih di era canggihnya tehnologi informasi saat ini. Gerak gerik petugas mudah diawasi, begitu pula penyelenggaraan bisnis hiburan malam. Apabila ada pelanggaran ataupun penyimpangan yang dilakukan baik aparat di lapangan maupun pengusaha, secepatnya bisa diketahui. Apalagi sekarang ini wartawan sungguhan jumlahnya kalah banyak dan kalah cepat dengan ‘wartawan medsos’ yang nota bene kapan saja, dimana saja, klik langsung tayang,” kata Tete.