JAKARTA - Satu diantara masalah fungsi seksual pada wanita adalah hilangnya dorongan seksual. Beberapa wanita merasa dorongan seksualnya lenyap atau alami penurunan hingga tidak memiliki hasrat untuk melakukan hubungan seksual.

Namun sebagian lainnya mengalami masalah dorongan seksual yang lebih buruk lagi. Mereka bukan hanya tidak memiliki dorongan seksual, tetapi relatif menolak serta menghindar dari semua bentuk aktivitas seksual, terlebih hubungan seksual. Bahkan muncul juga perasaan takut melakukan semua bentuk aktivitas seksual serta hubungan seksual. Gangguan ini disebut aversi seksual.

Sebut saja Nyonya Bunga mengalami gangguan aversi seksual. Tanda gangguan aversi seksual jelas dialami oleh isteri yang berumur 37 tahun itu. Hilangnya dorongan seksual, dibarengi perasaan jengkel apabila sang suami mulai mendekat, merupakan petunjuk yang kuat untuk gangguan aversi seksual.

Kondisi ini sudah pasti sangat mengganggu kehidupan perkawinan. Terlebih bila sang suami merasa tidak disukai lagi oleh isterinya. Kalau dibiarkan, sudah pasti dapat menimbulkan akibat yang lebih buruk lagi, bahkan juga dapat mengancam keutuhan perkawinan. Karena masalah ini harus diatasi.

Untuk menangani gangguan dorongan seksual, tentu mesti diketahui dahulu apa penyebabnya. Penyebab yang ada mesti diatasi atau dilenyapkan dulu. Selama penyebab tidak dilenyapkan, selama itu pula gangguan akan tetap ada. Pada dasarnya hilangnya dorongan seksual bisa dikarenakan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Beberapa faktor fisik yang menyebabkan hilangnya dorongan seksual adalah gangguan hormon, misalnya menurunnya kadar hormon testosteron, menurunnya kadar hormon tiroid, dan meningkatnya kadar hormon prolaktin.

Penyebab fisik yang lain misalnya kepayahan berlebihan, beberapa penyakit seperti penyakit hati, jantung, ginjal, dan paru-paru. Di samping itu beberapa obat juga menghambat dorongan seksual, misalnya obat penenang dan narkotik. Beberapa faktor psikis yang mengakibatkan hilangnya dorongan seksual ialah kejemuan, perasaan bersalah, stres berkepanjangan, dan pengalaman seksual tidak menyenangkan.

Salah satu contoh pengalaman seksual yang tidak menyenangkan ialah hambatan mencapai orgasme, yang dialami banyak wanita. Kegagalan mencapai orgasme yang terjadi dalam waktu lama dapat menimbulkan kekecewaan, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan hilangnya dorongan seksual. Di antara faktor psikis, kejemuan terhadap pasangan acapkali merupakan faktor penyebab dorongan seksual menurun atau lenyap sama sekali.

Pada Nyonya Bunga, tampaknya pengalaman seksual yang tidak menyenangkan merupakan penyebab utama. Selama 13 tahun menikah dia tidak pernah merasakan orgasme dan kepuasan seksual. Selama itu dia hanya bertugas melayani tuntutan seksual suaminya dan hanya menjadi penonton ketika suaminya mencapai kepuasan seksual. Maka mudah dibayangkan betapa kecewa dan jengkel perasaan Nyonya Bunga.

Lebih jauh, kegagalannya mencapai orgasme ternyata disebabkan oleh gangguan fungsi seksual yang dialami suaminya. Sesuai pengakuan isteri yang malang itu, ternyata suaminya mengalami ejakulasi dini atau mungkin juga disfungsi ereksi.

Seperti katanya, "Pada saat saya sedang terangsang, tiba-tiba saja sudah selesai." Hal itu menunjukkan bahwa hubungan seksual cepat berakhir, padahal dia belum apa-apa. Hubungan seksual yang cepat berakhir, mungkin disebabkan karena ejakulasi dini atau disfungsi ereksi, sehingga ereksi hilang dalam waktu singkat.

Tetapi di samping itu, penyebab fisik tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Maka pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan atau penyakit yang dapat mengganggu fungsi seksual. Kini keadaan menjadi lebih buruk karena Nyonya Bunga sudah merasa jengkel bila suami mulai mendekat untuk melakukan hubungan seksual. Melihat reaksi negatif ini, tampaknya Nyonya Bunga sudah mengalami aversi seksual.

Ketidakmengertian suami juga akan semakin memperburuk keadaan. Kalau suami tetap menuntut hubungan seksual sesuai keinginannya, maka dapat dipastikan gangguan fungsi seksual isteri akan semakin buruk.