BREAKINGNEWS.CO.ID – Rusaknya fasilitas minyak terbesar Arab Saudi terus membayangi ekonomi global. Pasalnya, kerusakan tersebut memicu bakal terjadinya pelanjutan kenaikan harga minyak dunia. Rentetannya juga merembes ke dalam negeri.  Itu terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar seiring naiknya komiditas utama dunia tersebut.

Pada akhir perdagangan Selas (17/9/2019) sore, mata uang garuda ditutup melemah 58 poin atau 0,41 persen menjadi Rp14.100 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.042 per dolar AS.

"Pasar masih fokus ke Timur Tengah, di mana ladang minyak milik Saudi Aramco, raksasa migas asal Arab Saudi, dihantam serangan pesawat tanpa awak alias drone," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, seperti dikutip dari laman Antaranews.com.

Dampak serangan itu sendiri tidak main-main, produksi minyak Arab Saudi sebanyak 5,7 juta barel per hari terhenti. Jumlah tersebut lebih dari separuh produksi "Negeri Gurun Pasir" itu.

Data Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) mencatat produksi minyak Arab Saudi pada 2018 adalah 10,32 juta barel per hari. Angka 5,7 juta barel per hari juga sekitar lima persen produksi dunia.

"Potensi itu kini tidak ada, sehingga berpotensi mengganggu pasokan minyak di pasar dunia. Akibatnya, harga minyak berpeluang terus naik," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.070 dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.070 per dolar AS hingga Rp14.110 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Selasa ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.100 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.020 per dolar AS.