JAKARTA-Sejumlah bank milik negara terus meningkatkan kontribusi jaringannya di luar negeri, baik dari sisi aset maupun laba. Langkah ini dilakukan dengan menambah jaringan baru dan mengembangkan produk.

Sekretaris Perusahaan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Rohan Hafas, menjelaskan sejak 2016 hingga saat ini, laba sebelum pajak (net profit before tax/npbt) jaringan luar negeri Bank Mandiri secara konsisten berkontribusi 2 persen terhadap total NPBT Bank Mandiri.

”Dari segi pertumbuhan juga menunjukkan angka yang signifikan, yaitu bertumbuh 40 persen pada Juni 2017 dibandingkan Juni 2016,” katanya. 

Image

Sementara itu, dari segi aset, kantor luar negeri Bank Mandiri sudah berkontribusi di atas 4 persen. ”Tren ini diperkirakan akan semakin meningkat setiap periodenya,”jelas dia.

BMRI di Malaysia

Baru-baru ini, Bank Mandiri meresmikan kantor cabang penuh, Bank Mandiri Berhad, di Malaysia setelah mendapat lisensi Qualified ASEAN Bank (QAB). Kantor tersebut akan mulai beroperasi pada akhir 2017.

Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad, Bank Mandiri merupakan bank pertama yang mendapat lisensi QAB. Dengan lisensi tersebut, bank milik pemerintah ini akan diperlakukan setara dengan bank-bank lokal yang beroperasi di Malaysia.

“Kami sangat menghargai otoritas perbankan Malaysia yang mendukung kehadiran bank dari Indonesia ini. Indonesia pun telah memperlakukan bank-bank Malaysia seperti milik sendiri. Ini merupakan langkah maju yang dapat memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia,” kata dia.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengemukakan, kegiatan bisnis Indonesia telah tersebar di seluruh ASEAN. Perkembangan positif ini, menurut dia, sebagai salah satu yang mendorong Bank Mandiri perlu hadir di Malaysia.

“Sebagai bank berlisensi QAB, kami akan beroperasi di Kuala Lumpur untuk mendukung kegiatan bisnis perusahaan-perusahaan,” tutur Kartika.

Untuk membuka cabang penuh di Malaysia, Bank Mandiri menyiapkan modal sebesar 300 juta ringgit Malaysia. “Kami sudah memulainya dengan injeksi modal sebesar 50 juta ringgit Malaysia. Jumlah ini akan terus ditambah secara bertahap,” kata Kartika.

Sebagai perwujudan komitmen Bank Mandiri untuk menjadi ASEAN prominent bank, maka Bank Mandiri berencana untuk terus meningkatkan jaringan luar negerinya. Saat ini Bank Mandiri telah memiliki 7 kantor luar negeri yang terdiri dari 5 cabang di Cayman Islands, Dili Timor Leste, Hong Kong, Shanghai dan Singapura, serta 2 anak perusahaan yaitu Bank Mandiri Europe Limited di London dan Mandiri International Remittance di Malaysia.

Saat ini Bank Mandiri juga sedang menjajaki perluasan jaringan di beberapa negara ASEAN yaitu Malaysia, Myanmar dan Filipina.

Di Malaysia, Bank Mandiri telah hadir sejak 2009 melalui Mandiri International Remittance (MIR) yang bergerak di jasa pengiriman uang. Saat ini MIR telah memiliki 13 outlet yang tersebar di beberapa lokasi dan melayani pekerja migran Indonesia serta beberapa perusahaan di Malaysia.

BBNI Bidik Pasar Melbourne

Tidak berbeda, Direktur Treasuri dan International PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Panji Irawan, menjelaskan bisnis luar negeri BNI berkembang cukup pesat. Hal ini seiring dengan tersedianya pendanaan dan tingginya permintaan valuta asing dari debitur.

Sampai semester I-2017, BNI mencatat penyaluran kredit untuk debitur-debitur luar negeri sebesar Rp 25,9 triliun atau tumbuh 6,3 persen (yoy). Tidak hanya dari penyaluran kredit, bisnis luar negeri BNI juga berasal dari pendapatan bisnis remitansi. Pada semester I-2017, pendapatan dari bisnis tersebut meningkat 23 persen (yoy) ke angka Rp 89 miliar.

Hasil gambar untuk logo BNI

Ke depan, penyaluran kredit dan bisnis remitansi diharapkan terus bertambah. BNI juga berencana untuk memperluas jaringan luar negeri dengan membuka cabang di Melbourne dan meningkatkan status kantor perwakilan di Myanmar. Sampai saat ini, BNI sudah memiliki cabang di London, New York, Tokyo, Hongkong, Singapura, Seoul dan Osaka.

"Negosiasi pembukaan cabang di luar negeri terus berjalan, sekarang sudah masuk terminologi analisis," kata Panji.

Belum lama ini, Dalam kunjungannya ke Melbourne, Australia, OJK memang membahas rencana pembukaan kantor cabang BNI di Melbourne, Australia.

Muliaman berharap, BNI bisa membuka kantor cabangnya dalam waktu dekat di Melbourne untuk memanfaatkan potensi keuangan di area tersebut khususnya dengan menyajikan layanan keuangan yang dibutuhkan oleh setiap bisnis dan kebutuhan WNI di Australia.

“OJK sudah menyampaikan kepada pemerintah di Victoria dan otoritas perbankan Australia untuk rencana pembukaan cabang BNI di Melbourne, sekarang tinggal BNI melanjutkan prosesnya,” kata Muliaman.

Menurut Muliaman, hubungan ekonomi antara Indonesia dan Australia selama ini sudah berjalan baik dan memiliki potensi yang besar untuk semakin dikembangkan.

Di sisi lain, Panji menambahkan pihaknya akan mempersiapkan pengajuan izin kepada otoritas perbankan di Australia dan berharap bisa mendapatkan izin secepatnya. Selepas mendapatkan izin, BNI akan membuka kantor cabang di Melbourne yang tidak hanya diperuntukkan untuk wholesale banking tetapi juga retail banking.

“Cepat lambatnya pendirian BNI di Melbourne tergantung pada perizinannya, harus ada izin dari OJK dan otoritas dari Australia. Prosesnya akan segera kami mulai,” kata dia.

Menurut Panji, BNI sudah melakukan studi kelayakan pendirian cabang di Melbourne, dan kesimpulannya kantor cabang yang dibuka selain melayani wholesale, juga bisa mengeluarkan produk dan jasa retail banking agar bisa menyerap kebutuhan pebisnis dan pelajar Indonesia di Australia.

OJK Jajaki Singapura, Filipina, dan Thailand

Kepala Departemen Komunikasi dan International OJK, Triyono, menjelaskan OJK terus memperluas kerjasama dengan negara lain. Adapun negara yang sedang dijajaki OJK adalah Singapura, Filipina dan Thailand.

Ketiga negara tersebut, menurut Triyono sudah masuk ranah negosiasi. Dia tidak bisa memperkirakan target waktu penyelesaian negosiasi tersebut. Pasalnya, untuk mencapai kesepakatan, kedua negara membutuhkan waktu.

”Seperti halnya dengan Malaysia, negosiasinya berlangsung dua tahun, mudah-mudahan negara lain bisa cepat,”ungkapnya.

BREAKINGNEWS.CO.ID