JAKARTA - Pasca mengalami komplikasi akibat lanjut usia, seekor badak putih jantan terakhir di dunia yang diberi nama Sudan, dilaporkan mati baru-baru ini.

Kematian Sudan terjadi melalui proses euthanasia (tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup) yang dilakukan oleh Lembaga Konservasi Oi Pejeta di Kenya pada Senin (19/3/2018).

Keputusan untuk mengambil tindakan euthanasia itu didasarkan pada kondisi kesehatannya yang semakin memburuk. Sistem tulang dan jaringan otot pada tubuh Sudan sudah melemah, sehingga memicu munculnya banyak luka, khususnya pada infeksi yang menyerang bagian belakang kaki kanannya.

Kematiannya tidak akan berdampak pada upaya untuk menyelamatkan spesies badak putih, dikarenakan fokusnya saat ini telah beralih ke teknik fertilisasi in vitro. Teknik ini menggunakan contoh sperma dan sel telur yang disimpan di laboratorium khusus, untuk nantinya dipasangkan melalui sebuah reka pembuahan.

"Sudan adalah maskot untuk spesiesnya dan akan selalu diingat untuk jasanya dalam meningkatkan kesadaran global tentang penderitaan yang dihadapi, tidak hanya badak putih utara, tetapi juga ribuan spesies lainnya yang menghadapi kepunahan, sebagai akibat dari aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan," ujar Richard Vigne, pimpinan lembaga konservasi terkait.

Menurut Vigne, Sudan adalah 'selebritas' yang mampu menarik perhatian ribuan pengunjung. Tahun lalu ia terdaftar sebagai Kandidat Paling Layak di Dunia, dalam upaya penggalangan dana melalui aplikasi kencan online Tinder.

Menurut riwayat hidupnya, Sudan adalah badak putih jantan terakhir di dunia yang lahir di alam liar. Ia kemudian dibawa ke sebuah kebun binatang di Ceko.

Sudan dikembalikan ke Kenya pada 2009 lalu, bersama tiga badak putih lainnya yang masih hidup kala itu. Mereka ditempatkan di bawah penjaga bersenjata 24 jam dan diberi makanan khusus.

"Meski faktanya terjadinya perkawinan di antara badak-badak tersebut, namun tidak berhasil membuahkan kehamilan,” jelas juru bicara lembaga konservasi.