BREAKINGNEWS.CO.ID-Pemerintah Australia dilaporkan tengah membahas perihal untung serta rugi terkait pemindahan kedutaan besar (Kedubes) mereka dari Israel ke kota Yerusalem pada Rabu (12/12/2018). Hal tersebut menyusul kabar yang menyatakan kalau para kabinet Negeri Kanguru tersebut sudah menyepakati akan mengakui kota suci itu sebagai ibu kota Israel beberapa waktu terakhir.

"Kabinet hari ini rapat untuk membahas pemindahan kedutaan besar di Israel. Hal itu belum diputuskan," kata sumber dari kabinet Australia seperti dilansir Reuters, Rabu (12/12).

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) hingga saat ini masih menyatakan Kota Yerusalem dalam status quo (keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya). Akan tetapi, Israel mencaploknya selepas perang 1967 silam dan menyatakan tempat itu akan menjadi ibu kota mereka di masa depan. Sedangkan Palestina juga berharap kota Yerusalem sebagai ibu kota mereka.

Apabila hal tersebut dilakukan, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison akan memenuhi tuntutan kalangan konservatif Australia. Tetapi, langkah itu ditentang keras oleh negara tetangga seperti Indonesia dan Malaysia yang penduduknya mayoritas umat Islam. Hal tersebut juga dikhawatirkan semakin memperuncing konflik serta menghambat proses perundingan damai. Oleh karena itu Indonesia menunda meneken perjanjian perdagangan bebas dengan Australia, apabila negara itu belum memutuskan sikap terkait persoalan ini.

Komite Keamanan Nasional menyetujui rencana mengakui Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Senin (10/12) malam waktu setempat. Apabila hal itu terjadi, Australia akan menjadi negara kelima setelah Amerika Serikat, Guatemala, Republik Ceko, dan Honduras yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Langkah ini pertama kali diumumkan Morrison pada Oktober lalu. Saat itu, dia menyampaikan kabinetnya tengah mempertimbangkan rencana memindahkan kedutaan Australia untuk Israel ke Yerusalem. Morrison menyatakan pertimbangkan itu muncul dikarenakan dirinya menganggap proses perdamaian antara Israel dan Palestina tidak kunjung usai. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Australia belum juga memberikan klarifikasi resmi.